Hidup tidak sendiri

Manusia tidak bisa hidup sendiri, begitupun dengan keyakinan kita terhadap agama orang lain yang harus dihormati.

Hidup harus ada tujuan

Di dunia kita hanya sementara, tujuan paling utama adalah ketika kembali kepadaNya dengan membawa ridhoNya.

Hidup tidak lepas dari alam

Meski secara kodrati manusia itu ciptaan yang paling sempurna.. tetapi tetap kecil diantara anugrah alam ciptanNya.

Hidup penuh Perjuangan

Hidup selalu lekat dengan perjuangan, ada riak, ombak dan batu karang yang harus dilewati... Semangat harus dikobarkan untuk mencapai tujuan

Hidup itu memberi manfaat

Sebaik-baik manusia adalah yang peling memberi manfaat kepada sesamanya....

January 11, 2007

Sholat Birul Walidain

Pengajian rutinan malam kamis yang diasuh oleh KH. Munthoha, SH., M.HUm kemaren membahas banyak hal yang paling menarik adalah tuntutan sholat Birul Walidain yaitu sholat sunat dua rakaat yang pahalanya dikhususkan dan dihadiahkan kepada kedua orang tua baik yang masih hidup maupun yang sudah wafat, topik ini menarik karena fadilah dari sholat tersebut yang sangat besar dan sebagai penghormatan dan pengabdian kita sebagai anak kepada orang tua, dalam masyarakat Jawa khususnya terlebih lagi umat Islam nya terutama yang memegang madzab Safi'iyah ala ahlushunah waljama'ah banyak melakukan ritual-ritual dalam rangka birul walidain ini seperti tahlilan, yasinan, peringatan khaul dll.
Adapun syarat rukun sholat birul walidain ini seperti sholat mutlak biasa namun ada beberapa persayaratan sebagai berikut:

Sholat dilakukan dua rakaat pada setiap Malam Kamis setelah sholat Magrib dan sebelum sholat Isyak atau setelah sunat ba'diatal Magrib dan sebelum qobliatal Isyak, adapun tambahannya adalah:
- Rakaat pertama dan kedua bacaannya sama, setelah membaca Fatihah kemudian membaca Ayat Kursi 5 x, Al Falak 5 x, An Naas 5x.
- Setelah salam membaca Istigfar 15 x, sholawat 15 x
- Setelah selesai sholat berdoa yang intinya memohonkan ampun kedua orang tua dan menghadiahkan pahala sholat untuk kedua orang tua.
Share:

January 9, 2007

Harmoni Islam dan Kristen

Sebuah artikel yang menyejukkan hubungan Islam-Kristen

Harmoni Islam dan Kristen
Oleh Abd Moqsith Ghazali*

Betapa sikap saling menghargai dan menoleransi, bahkan dalam soal pelaksanaan ritual peribadatan pun, telah dikukuhkan Nabi semenjak awal kehadiran Islam.

Nabi Muhammad SAW dan Isa al-Masih atau Yesus Kristus adalah dua tokoh yang terlahir dari asal-usul orang tua yang sama, Nabi Ibrahim, walau dari ibu yang berbeda. Jika Isa al-Masih atau Yesus bersambung kepada isteri pertama Ibrahim, Sarah, maka Muhammad SAW memiliki silsilah ke isteri kedua, Hajar. Itu sebabnya, Nabi Muhammad sangat menghargai saudara sepupunya itu. Nabi bersabda, tidak ada orang yang paling dekat dengan Yesus selain aku. Hadits Bukhari menyebutkan, orang Islam yang mengimani Yesus Kristus dan Nabi Muhammad secara sekaligus akan mendapatkan dua pahala [Lihat Shahih al-Bukhary, hadits ke 3446].

Alkisah, ketika Nabi Muhammad memasuki Mekah dengan penuh kemenangan (Fathu Makkah) dan menyuruh menghancurkan semua patung dan berhala, termasuk berhala raksasa bernama Hubal, dia menemukan gambar Bunda Maria (Sang Perawan) dan Isa al-Masih (Sang Anak) di dalam Kabah. Ia kemudian menyelamatkan dua gambar itu dengan memasukkannya ke dalam jubahnya (Lihat al-Arzaqi, Akhbar Makkah, hlm. 165-169). Patung Maryam yang terletak di salah satu tiang Kabah dan patung Yesus Kristus di Hijirnya yang dipenuhi berbagai hiasan, dibiarkan berdiri tegak (Kardi Ali, al-Islam wa al-Hadlarah, Juz I, hlm. 123). Tindakan ini diceritakan berbagai sumber sebagai bentuk penghargaan Muhammad terhadap Yesus dan ibundanya.

Bahkan, penghargaan itu bukan hanya terhadap pribadi Yesus, melainkan juga pada para pengikuttnya. Dikisahkan bahwa Nabi pernah menerima kunjungan para tokoh Kristen Najran yang berjumlah 60 orang. Rombongan itu dipimpin Abdul Masih, al-Ayham, dan Abu Haritsah bin Alqama. Abu Haritsah adalah seorang tokoh yang disegani karena kedalaman ilmu, dan konon, juga karena beberapa karomah yang dimilikinya. Menunut Muhammad ibn Ja'far ibn al-Zubair, ketika rombongan itu sampai di Madinah, mereka langsung menuju masjid. Saat itu, Nabi sedang melaksanakan salat asar bersama para sahabatnya. Mereka datang dengan memakai jubah dan surban, pakaian yang juga lazim dikenakan Nabi Muhammad SAW dan para sahabatnya. Ketika waktu kebaktian tiba, mereka pun tak harus mencari gereja.Nabi memperkenankan mereka untuk melakukan sembahyang di dalam masjid [Baca Ibnu Hisyam, al-Siyrah al-Nabawiyah, Juz II, hlm. 426-428].

Sikap yang sama juga ditunjukkan kalangan Kristen. Ketika umat Islam dikejar-kejar orang-orang kafir Quraisy Mekah, yang memberikan perlindungan adalah Najasyi, raja Abesinia yang Kristen. Ratusan sahabat Nabi termasuk Utsman bin Affan dan istrinya (Ruqayah, puteri Nabi), Abu Hudzaifah bin 'Utbah, Zubair bin Awwam, Abdurrahman bin 'Auf, Ja'far bin Abi Thalib, secara bergelombang hijrah ke Abesinia untuk menghindari ancaman pembunuhan kafir Quraisy. Di saat orang-orang kafir Quraisy memaksa sang raja untuk mengembalikan umat Islam itu ke Mekah, ia tetap pada pendirian bahwa pengikut Muhammad haruslah dilindungi dan diberikan hak-haknya, termasuk hak memeluk suatu agama.

Dalam konteks itulah, menurut al-Qurthubiy dalam al-Jami' li Ahkam al-Qur`an (Juz III, hlm. 597-598) dan Rasyid Ridha dalam Tafsir al-Qur`an al-Hakim (Juz VIII, hlm. 3), surat al-Maidah ayat 82 diturunkan. Ayat itu berbunyi, "Sesungguhnya kamu akan jumpai yang paling dekat persahabatannya dengan orang-orang beriman adalah orang-orang yang berkata: “Sesungguhnya kami ini orang-orang Nashraniآ’.” Waktu raja Najasyi meninggal dunia, Nabi Muhammad SAW pun melaksanakan salat jenazah dan memohonkan ampun atasnya (Ibnu Hisyam, al-Siyrah al-Nabawiyah, Juz I, hlm. 338).

Penggalan-penggalan cerita di atas sengaja saya kemukakan untuk menunjukkan kemesraan hubungan Islam dan Kristen, yang dilakonkan oleh Nabi Muhammad bersama umat kristiani saat itu. Betapa sikap saling menghargai dan menoleransi, bahkan dalam soal pelaksanaan ritual peribadatan pun, telah dikukuhkan Nabi semenjak awal kehadiran Islam. Sejarah harmoni ini mestinya menjadi modal sosial dan inspirasi bagi pembentukan kehidupan damai antara Islam dan Kristen di Indonesia yang kini kerap dilanda konflik dan ketegangan.[]

*Penulis adalah peneliti the WAHID Institute.
Share:

Pengajian ala Jawa

Malam kamis adalah jadwal rutin untuk ngaji di Masjid Al Ma'arif yang diasuh oleh KH.Muntoha, SH.Mhum seorang kyai muda yang juga seorang dosen di Sebuah PTS Islam terkemuka di Yogyakarta yang sekarang lagi menyelesaikan disertasi doktoralnya dibawah bimbingan ketua MK (mahkamah konstitusi) Jimly Asidiqi. Malam kamis kemaren beliau berhalangan hadir untuk memberikan tausiah kepada kita (jadwal rutin ini mengkaji kitab fiqh keluarga 'uqudul Jain yang disebut kitab kontroversial versi JIL dan LSM-LSM yang memperjuangkan kesetaraan jender, karena pada kitab itu dominasi kaum adam sangat kentara dan secara tekstual peran perempuan menjadi sub ordinasi dari kaum lelaki. Bahkan aktivis perempuan Ibu Sinta Nuriyah Gus Dur pun menulis sebuah buku untuk mengkritisi kitab ini, soal buku ini Insya Allah akan saya cari dan mencoba memahaminya dari kacamata saya sebagai kaum lelaki...he...he.

Kembali ke malam kamis kemaren ketika acara baru saja dibuka, pak ketua takmir memanggil saya untuk duduk disamping beliau, singkat kata setelah beberapa mukadimah dan prakata dari beliau saya di daulat untuk mengisi pengajian sebagai pengganti Kyai Muntoha, Astagfirullah.... niat hati menimba ilmu dari sumur yang dalam airnya akhirnya saya yang hanya sebuah ember yang volumenya kecil harus mencipratkan air, yah apa dikata walau tanpa preparasi yang cukup akhirnya muncul juga suara saya, kebetulan malam jum'at pon kemaren ketika Mujahadah Dzikrul Ghofilin di seturan Kyai Abdul Basir sempat menyempaikan beberapa topik dengan bait-bait shalawat dengan syair -syair Jawa.. berikut sedikit petikannya:

Hasbunallohwa ni’mal wakkil
Ni’mal mawla wa ni’man Nasir

La haula wala quwata
Ila billahil 'aliyil 'adhim

Urip kudu sing ati ati
Amal becik do dilakoni
Golek ridhane kang moho suci
Neng akherat bakale mukti

Karcis swargo kuwi murah
Neng akeh sing podo wegah
Karcis neroko kuwi larang
Sing seneng kok pirang-pirang

Urip saiki kudu waspodo
Godaane werno-werno
Halal haram ra pati cetho
Salah pilih bakal ciloko

Werkudoro gambare wayang
Gatotkoco iso mabur
Ayo konco do sembahyang
bakal slamet neng ngalam kubur

dll
Share:

January 8, 2007

Don't Think ---=Look=---

DON'T THINK -- LOOK
Rasyid Sunarman - halida@tgl.mega.net.id
Date: Wed, 29 Sep 1999
Assalamu'alaikum wr wb
Sudah beberapa kali dimunculkan di milis ini, pikiran manusia itu dapat diumpamakan CPU pada komputer. Siapa berani membantah bahwa CPU merupakan komponen terpenting? CPU menerima input dari keyboard, mouse, modem, scanner dll, dan setelah diproses, hasilnya dapat dilihat di layar, di-print, disimpan di harddisk, dikomunikasikan dengan komputer lain, dll. Tolong diperhatikan: kalau suatu saat CPU itu sibuk memproses sesuatu input dari scanner, misalnya, ia tidak bereaksi dengan baik jika diberi input melalui keyboard datau mouse.
Begitu pula pikiran manusia. Pikiran menangkap isyarat yang diterimanya melalui panca indera, memprosesnya menjadi tindakan dan menyimpan informasi di dalam memori. Berbeda dengan CPU yang selalu khusyu', pikiran manusia cenderung kacau balau. Banyak sekali jenis isyarat yang masuk pada saat yang bersamaan [termasuk isyarat yang tidak melalui panca indera], tetapi pikiran tidak memiliki sistem yang baik dalam pengendalian arus isyarat yang masuk.
Dalam tasawuf, kita dituntut untuk melatih diri mengendalikan pikiran sehingga menjadi jelas input dari mana yang hendak diproses. Sasaran yang hendak dicapai ialah agar pikiran mampu menangkap isyarat halus yang sering disebut dengan 'cahaya Allah', 'bimbingan Allah', 'getaran Allah' atau istilah lain, yang pada hakikatnya merupakan energi pendorong agar manusia memperoleh keselamatan dan kesejahteraan dunia akhirat. Sayang, sekali, isyarat ini sangat halus dan sangat sulit ditangkap. Kita hanya mampu menangkapnya bila pikiran dibebaskan dari aktivitas aktif 'berpikir' dan diubah menjadi pasif 'menonton'.

Dalam hidup ini kita sudah terbiasa mengagungkan pikiran kita, sehingga boleh dikatakan bahwa kita ini 'menyembah pikiran kita', bukan menyembah Allah. Dalam memahami ayat-ayat Al Qur'an dan Hadits, kita cenderung untuk menggunakan logika dan daya pikir, dan pemahaman yang diperoleh dengan cara itu kita sembah sebagai kebenaran hakiki. Meskipun pemahaman rasional semacam itu tidak sepenuhnya salah, tetapi belum tentu merupakan kebenaran hakiki. Prof. Quraish Shihab pernah berkata: "Kalau membaca Al Qur'an, biarkan Al Qur'an itu sendiri menjelaskannya kepadamu." Dalam kalimat itu terkandung pengertian bahwa kita diminta untuk merendah, mengakui keterbatasan pikiran kita yang tidak lebih dari sekedar alat pemroses data [bukan sumber data], dan menyingkirkan semua bangunan/konsepsi yang ada di dalam pikiran karena hanya akan menjadi penghalang -- agar energi yang terpancar sari ayat-ayat AQ itu dapat menembus ke dalam otak melalui hati. Inilah yang dimaksud dengan 'Jangan berpikir'. Sudah pasti, cara ini bukan cara yang rasional.
"Jangan berpikir' itu bukanlah anjuran untuk dilakukan 24 jam sehari, tetapi sekurang-kurangnya kita diharuskan melakukannya 5 kali dalam sehari. "Dirikan shalat untuk mengingatKu," begitu kira-kira bunyi Al Qur'an. Namun anjuran untuk mengingat Allah tidak hanya terbatas pada shalat; silakan dibaca berapa kali anjuran itu muncul di dalam Al Qur'an. Bahkan ada perkataan "...jangan sekali-sekali lalai dalam mengingatKu." Tentu saja, bagi orang yang sudah mengenal Allah, 'mengingat' bukan sekedar mengingat menurut pemahaman kita, tetapi disertai dengan perbuatan nyata: berhenti berpikir dan menangkap isyarat/cahaya/bimbingan dari Allah.
Tasawuf yang utuh bukanlah melarang orang untuk berpikir, melainkan menganjurkan agar orang menggunakan pikirannya dengan arif sesuai dengan keterbatasan dan kelebihannya. Konsep 'insan kamil' atau 'manusia sempurna', digambarkan sebagai manusia yang bersih jiwanya, berpihak kepada kemanuiaan, mampu menangkap isyarat Allah, dan mampu mengaktualisasikannya ke dalam tindakan melalui kecerdasan pikirannya.
Gambaran kaum sufi sebagai 'santri theklek' bukanlah sesuatu yang representatif, karena [kebanyakan] mereka tidak dibekali intelektualitas yang tinggi atau pendidikan akademik yang memadai. Tanpa mengingkari bahwa mereka pun bermanfaat bagi masyarakat, tentu gambaran semacam itu jauh dari tujuan milis ini. Saya sangat mengharapkan, anggota-anggota milis kita [yang saya yakin tak seorangpun ber-IQ di bawah 100], mampu menggabungkan rasionalitas dan spiritualitas hingga menjadi insan-insan yang kamil. Kecerdasan yang tinggi, bila dilindungi dengan cahaya Allah, niscaya menghasilkan karya-karya nyata yang bermanfaat positif bagi umat manusia.
Wassalamu'alaikum wr wb
Ijin pemuatan di situs Tasawuf telah diberikan via e-mail.
Share:

Ilmu Tuhan

ILMU TUHAN
Syariefudin Algadrie - syarief@teknologi.ks.co.id
Date: Thu, 25 Mar 1999
Assalamu'alaikum wr.wb.
Bismillahirrahmanirrahim,
Tulisan ini akan mencoba untuk memahami bagaimana Tuhan mengetahui makhluk-makhlukNya (termasuk perbuatan-perbuatannya). Namun yang perlu diingat disini adalah bahwa memahami ilmu Tuhan bukan berarti kita akan dapat mengerti hakikat ilmuNya. Sebab hakikat ilmuNya hanya diketahui oleh diriNya sendiri, karena hakikat ilmuNya adalah diriNya sendiri.
Pada dasarnya ada dua kemungkinan sifat ilmu yang dimiliki Allah, yaitu:
Pertama, adalah sifat ilmu yang tergolong sebagai sifat-zat. Yaitu ilmuNya terhadap DiriNya sendiri. Dalam hal ini Dia, ilmu dan obyek ilmuNya adalah sama dan satu yaitu DiriNya sendiri. Oleh karena itu ilmuNya adalah DiriNya dan DiriNya adalah ilmuNya. Tidak ada dualisme didalamNya. Satu-satunya perbedaan hanyalah dalam pengertian dan akal kita saja, sedang pada hakikat eksistensiNya adalah sama dan satu (bukan kesatuan). Oleh karena itu kita dapat mengatakan bahwa ilmuNya tidak terbatas.
Kedua, adalah sifat ilmu yang tergolong sifat-perbuatan, yaitu ilmuNya terhadap seluruh makhlukNya secara langsung. Sifat ini jelas tidak ada dan tidak boleh ada karena kalau sifat ini dianggap ada berarti Dia mengalami proses. Sebab sebelum ada makhluk Dia tidak mungkin mengetahuinya. Apalagi setelah adapun sebagian makhluk selalu berproses (bergerak/berubah). Mungkinkah ilmuNya tidak tsabit dan selalu berubah sebagaimana berubah-ubahnya makhluk? Bukankah dengan demikian berarti Allah selalu menyempurnakan DiriNya dengan selalu bermunculannya makhluk-makhluk atau keadaan yang baru? Selanjutnya, tidakkah dengan demikian berarti Allah butuh dan terbatas? Jawabannya tidak bisa lain kecuali bahwa hal itu adalah mustahil. Sebab keterbatasan adalah ciri wujud-mungkin (makhluk) sedangkan Allah adalah wujud-wajib yang mempunyai ciri tidak terbatas.
Kalau ada yang mengatakan: "Allah mengetahui makhlukNya sebelum penciptaan", maka ini berarti Allah tidak mengetahui makhlukNya yang ada ini secara langsung karena bukankah dalam hal ini mahklukNya belum dicipta atau belum wujud/ada? Sehingga pernyataan diatas bahwa "Allah mengetahui makhlukNya sebelum penciptaan" sebenarnya telah mengembalikan hal ini pada sifat ilmu Tuhan yang pertama yaitu sifat ilmu yang tergolong sifat-zat.
Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa pengetahuan (ilmu) Tuhan tentang mahlukNya adalah secara tidak langsung karena pengetahuan Tuhan yang langsung hanya terhadap DiriNya. Artinya untuk mengetahui tentang mahklukNya Tuhan tidak membutuhkan mahklukNya tetapi cukup dengan mengetahui DiriNya Dia dapat mengetahui mahklukNya. Sebab sebagai Sang Pencipta, Tuhan memiliki semua (bahkan jauh lebih sempurna, sebenarnya Dia tidak bisa dibandingkan dengan apapun jua) kesempurnaan ciptaanNya/mahklukNya.
Oleh karena itu untuk mengetahui makhlukNya, Tuhan tidak perlu berada dimana-mana (apalagi ada didalam diri kita) sebab dimana itu sendiri adalah juga makhlukNya/ciptaanNya sementara kita tahu bahwa Tuhan tidak terikat atau butuh atau tergantung pada makhlukNya. Justru makhlukNya sangat bergantung kepadaNya baik pada proses penciptaannya ataupun kelangsungan keberadaannya.
Mengenai kebergantungan makhluk kepada Tuhan tersebut di atas perlu saya beri catatan tersendiri yaitu bahwa kebergantungan makhluk kepada Tuhan jangan diartikan segala perbuatan manusia ataupun makhlukNya yang lain yang mempunyai kesadaran seperti iblis/syetan dan jin (untuk selanjutnya cukup saya tulis dengan makhlukNya) telah diarahkan/ditentukan/diprogram oleh Tuhan. Jika kita memahaminya seperti ini maka sama halnya kita telah membatasi kesempurnaan Tuhan. Mengapa? Karena dengan demikian selain pengetahuan Tuhan tentang makhlukNya/manusia akan menjadi berubah-ubah sebagaimana berubah-ubahnya keadaan/kejadian pada manusia/makhlukNya, sementara kita tahu bahwa ilmu Tuhan itu tsabit (tidak berubah-ubah) dan tidak terbatas, juga berarti kita telah mensifatiNya dengan sifat bakhil ataupun dzalim karena telah menahan sesuatu yang diperlukan/dibutuhkan bagi kesempurnaan/kebaikan manusia/makhlukNya. Mustahil Tuhan akan berbuat atau mempunyai sifat demikian. Sama mustahilnya dengan khayalan yang mengatakan bahwa Tuhan bisa saja memasukkan orang yang sholeh keneraka ataupun memasukkan orang yang sesat kesurga. Mengapa? Karena surga tidak bisa bercampur/bersatu dengan kesesatan dan sebaliknya neraka tidak bisa bercampur/bersatu dengan ketaatan. Jadi disini masalahnya bukan Tuhan bisa/mungkin atau tidak bisa/tidak mungkin, tetapi makhlukNya yang bernama surga dan neraka tersebut tidak akan pernah mampu keluar dari maksud dan tujuan mereka diciptakan (ingat, bahwa surga dan neraka adalah termasuk golongan makhluk yang tidak mempunyai kesadaran seperti batu, gunung dll). Maha Suci Allah dari segala yang disifatkan manusia/makhlukNya. Dengan demikian masihkah Tuhan membutuhkan iblis/syetan untuk misalnya menguji/menggoda/menipu/mengelabui manusia? Sungguh suatu kesyirikan yang nyata bila ada yang berpikiran demikian, karena itu berarti Tuhan butuh makhlukNya ataupun menyetarakan/menyekutukan Dia dengan makhlukNya. Jangan-jangan pikiran demikian (bahwa iblis/syetan bermanfaat) memang dihembus-hembuskan oleh iblis/syetan kepada manusia untuk menjerumuskan manusia pada sesuatu yang sangat dikutuk oleh Tuhan yakni syirik. Sungguh Tuhan Maha Esa (bukan kesatuan) dalam segala perbuatan dan zatNya.
Setelah kita memahami bahwa ilmu Tuhan itu termasuk sifat-zat dan mustahil sebagai sifat-perbuatan sebagaimana uraian di atas, maka masih perlukah Tuhan mempunyai mata untuk melihat, mempunyai telinga untuk mendengar, mempunyai kaki untuk bergerak, mempunyai tangan untuk berbuat/mencipta? Jawabannya jelas adalah tidak! Sungguh suatu kejahilan yang nyata bila ada yang mem-personifikasi Tuhan dengan mengkhayalkan bahwa Tuhan butuh itu semua untuk mengetahui/mencipta makhlukNya.
Demikian tulisan saya mengenai ilmu Tuhan yang telah saya coba untuk sesederhana mungkin dan mudah dipahami. Walaupun demikian bilamana ada rekan-rekan yang masih perlu penjelasan lebih lanjut, jangan segan-segan menghubungi saya. Mudah-mudahan tulisan ini dapat sedikit membantu memperjelas kesimpang siuran ataupun kerancuan yang ada disekitar kita.
Alhamdullillah Robbul'alamin.
Wassalamu'alaikum Wr.Wb.

Share:

Hakikat Manusia

HAKIKAT MANUSIA
Abah Hilmy - hilmy@ucsd.com
Date: Tue, 25 May 1999
Bismillahirrahmaanirrahiim
Assalamu'alaikum Wr. Wb
Mohon maaf buat teman-teman yang pernah mendapatkan kajian ini.
Manusia sesungguhnya terdiri dari 3 unsur:
1. Jasad
"Penyakit" dari jasad terhadap hati disebut Syahwat.
2. Jiwa (An-Nafs)
Defaultnya jiwa adalah Jiwa Muthmainnah. Inilah hakikat diri manusia. "Penyakit" dari Jiwa terhadap hati adalah Hawa Nafsu. Hawa Nafsu ini jumlahnya banyak. Tidak hanya satu. Imam Ja'far Ash Shadiq mengklasifikasikannya menjadi 75 jenis.
Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Rabbku. (QS. 12:53)


3. Ruh (Ar-Ruh)
Dalam Al Qur'an dibagi 3 bahasanya:
10019. Ruhul Amin
Hal ini menunjuk kepada Malaikat Jibril (QS. 26:193)
10020. Nafakh Ruh
Hal ini adalah sebagian dari Ruh Allah yang ditiupkan kepada manusia, menjadi nyawa atau sukma.
10021. Ruhul Qudus
Hal ini adalah realitas Allah dalam diri manusia. Zat Allah yang dirangkul oleh hati orang mukmin (Hadits Qudsi). Dalam surat 24:35 digambarkan Allah adalah cahaya langit dan bumi. Ruhul Qudus adalah sumber cahaya (pelita) yang terdapat didalam kaukaban (jiwa), yang terdapat di dalam misykat (jasad). Ruhul Qudus apabila telah menyala dalam jiwa seorang mukmin, maka Al Qur'an menjadi terang baginya, pemberi petunjuk baginya, dsb (QS 16:102)
HATI
Hati ada 2 jenis, yaitu:
1. Hati Jasamaniyah
Hati jenis ini berbentuk seperti buah shanaubar. Hewan memiliki. Mayatpun memiliki.
2. Hati Ruhaniyah
Hati jenis ini disebut pula hati latifah. Tidak berbentuk seperti buah shanaubar. Hati inilah yang mengenal Allah, dan dapat merangkul Zat Allah.
Hati Ruhaniyah seperti 2 sisi mata uang dengan Jiwa Muthmainnah.
Apabila manusia hidup dengan mengikuti hawa nafsu & syahwatnya, maka Hatinya (Jiwa Muthmainnah) tertutupi oleh "penyakit-penyakit" tersebut. Maka kondisi hati (jiwa Muthmainnah) nya menjadi sakit, buta, tuli, lumpuh, bahkan mungkin mati!
Mungkin kita termasuk orang-orang yang sakit atau mati Jiwa Muthmainnah kita?
Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami; sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. (QS. 2:32)
Jiwa Muthmainnah inilah sesungguhnya JATI DIRI manusia. Dialah sisi lain dari 2 sisi mata uang, apabila kita menyebut HATI RUHANIYAH.
Jadi sesungguhnya, kurang tepat kalau (mungkin) sekarang kita mengatakan bahwa "Inilah diri saya". Kenapa? Karena mungkin yang kita tunjuk kepada diri kita bukanlah Jati Diri kita sesungguhnya. Tetapi merupakan Jati Diri (Jiwa Muthmainnah) kita yang terbungkus oleh syahwat & hawa nafsu.
Perangai dan perilaku yang mengalir dari diri kita dalam setiap aktivitas sekarang ini, (mungkin) belum merupakan cerminan sesungguhnya Jati Diri, tetapi lebih merupakan cerminan syahwat dan hawa nafsu yang mendominasi diri kita.
Seorang yang Jiwa Muthmainnah-nya bersih sempurna, barulah ia dikatakan "mengenal dirinya". Dia akan mengetahui Jati Dirinya. Pada tahapan inilah seorang dikatakan ma'rifatullah.
Rasulullah SAW bersabda (sebagian ulama mengatakan ini merupakan kata hikmah), bahwa "Barangsiapa mengenal dirinya, maka ia akan mengenal tuhannya".
Namun Ma'rifatullah BUKAN TUJUAN AKHIR. Ini barulah gerbang pertama dalam memasuki pelaksanaan Diin yang hakiki. Sehingga kurang tepat kalau ada seorang pejalan tasawuf, yang menganggap tujuan akhir perjalanannya adalah Ma'rifatullah. Dengan mengatakan tahapan-tahapan tasawuf adalah : syariah - thariqah - hakikat - Ma'rifat (tujuan akhir).
Ali Karamallahuwajhah pernah berkata dalam bukunya "Nahjul Balaghah", bahwa "awalnya beragama adalah ma'rfiatullah". Ma'rifatullah baru awal dari beragama seseorang.
+++++++
Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami; sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. (QS. 2:32)
Ijin pemuatan di situs Tasawuf telah diberikan via e-mail.
Share:

Tentang Saya

Seorang kawula Gusti

Orang biasa pada umumnya yang sedang berusaha menjadi batur, kacung, kuwula dan hamba yang mengabdi kepada Gustinya. Tentang siapa saya..... terlahir dengan nama Wiratno namun biasa kadang-kadang orang memanggil saya dengan sebutan pak wi, pak wir, mbah wir.
Apalah artinya sebuah nama....
Lulus dari STIE YKPN tahun 1996, Lulus dari MM UGM tahun 2006
Hingga saat ini lagi ngurusi yayasan DBM, ngurusi jamaah dan anak2 yang mondok, senang dengan budaya Jawa : Masih nyangkul di AA YKPN sebagai Kepala Pusat TIK, nyambi Staff Ahli di DPRD Kabupaten Sleman, aktivis Kerukunan Umat Beragama, pernah jadi bendahara PCNU Sleman, Tenaga Ahli Pendamping Desa Prov. DIY, Pernah ngurusi PNPM Peduli Lakpesdam PBNU, sekarang masih menjadi Ketua LPPNU PCNU Sleman, Ketua LWPNU PWNU DIY, Pendiri Yayasan Dharma Bhakti Mulia, Pengurus FKUB, Pengurus MUI.
Share:

Isi Pokok Ajaran Tasawuf

Berikut ini pokok-pokok ajaran tasawuf dalam struktur yang umum dan global, serta singkat. Tujuan pembuatan tulisan ini adalah supaya tergambar secara menyeluruh dan terstruktur ajaran-ajaran kaum sufi. Memang dalam beberapa bagiannya ada ajaran-ajaran yang cukup kontroversial. Untuk itu perlu pembahasan lebih lanjut. Insya Allah selanjutnya akan lebih dibahas secara detail tiap-tiap ajaran tersebut.

1. Tasawuf Akhlaqi
Takhalli: membersihkan diri dari sifat2 tercela
Tahalli: mengisi diri dengan sifat2 terpuji
Tajalli: terungkapnya nur gaib untuk hati

10323. Munajat: melaporkan aktivitas diri pada Allah
10324. Muraqabah dan muhasabah: selalu memperhatikan dan diperhatikan Allah dan menghitung amal
10325. Memperbanyak wirid dan zikr
10326. Mengingat mati
10327. Tafakkur: merenung/meditasi

2. Tasawuf 'Amali
10338. Beberapa Istilah praktis
1. Syari'ah: mengikuti hukum agama
2. Thariqah: perjalanan menuju Allah
3. Haqiqah: aspek batiah dari syari'ah
4. Ma'rifah: pengetahuan mengenai Tuhan melalui hati
10339. Jalan Mendekatkan diri kepada Allah
1. Maqamat: tahapan, tingkatan
10353. Taubah: pembersihan diri dari dosa
10354. Zuhd: sederhana dalam hal duniawi
10355. Sabr: pengendalian diri
10356. Tawakal: berserah diri sepenuhnya kepada Allah
10357. Ridha: menerima qada dan qadar dengan rela
10358. Mahabah: cinta kepada Allah
10359. Ma'rifah: mengenal keesaan Tuhan
2. Ahwal: kondisi mental
10368. Khauf: merasa takut kepada Allah
10369. Raja': optimis terhadap karunia Allah
10370. Syauq: rindu pada Allah
10371. Uns: keterpusatan hanya kepada Allah
10372. Yaqin: mantapnya pengetahuan tentang Allah
3. Tasawuf Falsafi a. Fana' dan Baqa': lenyapnya kesadaran dan kekal b. Ittihad: persatuan antara manusia dengan Tuhan c. Hulul: penyatuan sifat ketuhanan dg sifat kemanusiaan d. Wahdah al-Wujud: alam dan Allah adalah sesuatu yang satu e. Isyraq: pancaran cahaya atau iluminasi
Disarikan dari:
Drs. Asmaran As., M.A., Pengantar Studi Tasawuf, Rajawali Pers, 1996, hal.65-176
Share:

Jalan Manuju Allah - Konsep Tasawuf -

1. Tujuan Hidup dan Tugas Manusia serta Permusuhan Syaithan
Tujuan hidup manusia adalah untuk beribadah kepada Allah SWT, Sang Maha Pencipta sebagaimana difirmankan Allah dalam Al- Qur'an Surat Adz-Dzaariyaat ayat 56 yang berbunyi "Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku" dan Surat Al-Baqarah ayat 21 yang mengatakan "Hai manusia, sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertaqwa". Beribadah berarti melaksanakan segala sesuatu (yang baik) dengan semata mengharap ridla Allah. Bertaqwa artinya menjalankan segala yang diperintahkan olehNya dan meninggalkan segala yang dilarang olehNya.
Selain itu, manusia diberi kepercayaan oleh Allah SWT untuk menjadi khalifah (pemimpin) di muka bumi. Tugas kekhalifahan ini terpatri dalam Al-Qur'an Surat Al-Baqarah ayat 30 yang berbunyi: "Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: 'Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi'..." Kepemimpinan itu dimulai dengan memimpin diri (hawa nafsu)nya sendiri, keluarga, dan kemudian berkembang ke memimpin lingkungan yang lebih luas.
Kepercayaan Allah terhadap manusia ini diprotes oleh baik malaikat maupun iblis, dengan alasan yang berbeda. Malaikat protes karena melihat manusia suka saling berbunuhan; sedangkan, iblis protes karena merasa dirinya yang dibuat dari api itu lebih tinggi derajatnya dari pada manusia yang dibuat dari tanah. Setelah Allah menjelaskan, malaikat mengikuti perintah Allah dan mengakui kekhalifahan manusia, tetapi iblis tetap membangkang. Hal ini terlihat dari dialog antara Allah dengan malaikat dan iblis yang terdapat dalam Al-Qur'an.
"...... Mereka (malaikat) berkata: 'Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?' Tuhan berfirman: Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui". (Q.S. Al-Baqarah: 30).
"Dan (ingatlah), tatkala Kami berfirman kepada para malaikat: 'Sujudlah kamu semua kepada Adam', lalu mereka sujud kecuali iblis. Dia berkata: 'Apakah aku akan sujud kepada orang yang Engkau ciptakan dari tanah?'". (Q.S. Al- Israa': 61).
Sedangkan syaithanpun tetap bersikukuh untuk ingkar terhadap perintah Allah ini meskipun diancam dengan Neraka Jahannam. Akan tetapi syaithan minta 'privilege' kepada Allah SWT untuk dapat hidup terus hingga Hari Qiamat dan diberi ijin untuk membujuk manusia mengikuti jalan sesatnya. Allah mengijinkan permintaan ini. Peristiwa ini diceritakan dalam Al-Qur'an Surat Al- Israa' ayat:62-65:
"Dia (iblis) berkata: 'Terangkanlah kepadaku inikah orangnya yang Engkau muliakan atas diriku? Sesungguhnya jika Engkau memberi tangguh kepadaku sampai hari kiamat, niscaya benar- benar akan aku sesatkan keturunannya, kecuali sebagian kecil'."
"Tuhan berfirman: 'pergilah, barangsiapa di antara mereka yang mengikuti kamu, maka sesungguhnya neraka jahannam adalah balasanmu semua, sebagai suatu pembalasan yang cukup."
"Dan hasunglah (bawalah) siapa yang kamu sanggupi di antara mereka dengan ajakanmu, dan kerahkanlah terhadap mereka pasukan berkuda dan pasukanmu yang berjalan kaki dan berserikatlah dengan mereka. Dan tidak ada yang dijanjikan oleh Syaithan kepada mereka melainkan tipuan belaka."
"Sesungguhnya hamba-hamba Ku, kamu tidak dapat berkuasa atas mereka dan cukuplah Tuhan-mu sebagai Penjaga".
Maka syaithanpun bersumpah akan menyesatkan manusia dengan cara apapun dan dari jalan manapun. Hal ini dapat dilihat dalam Al-Quran Surat An-Nisaa'ayat 118-119 yang berbunyi: "... dan syaithan itu mengatakan: 'Saya benar-benar akan mengambil dari hamba-hamba Engkau bahagian yang sudah ditentukan (untuk saya), dan saya akan menyesatkan mereka, dan akan membangkitkan angan- angan kosong mereka, ..." dan Surat Al-A'raaf ayat 16-17 yang berbunyi: "Iblis menjawab: 'Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan menghalangi-halangi mereka dari jalan Engkau yang lurus, kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (ta'at)."
2. Sasaran Strategis Syaithan adalah Hati (Qalb)
Hati merupakan inti dari manusia. Hatilah, dan bukan akal, yang menggerakkan seluruh anggota badan. Hati pulalah yang menghubungkan manusia dengan Khaliknya, Allah SWT. Firman Allah dalam Al-Qur'an Surat Az-Zumar 17-18: "Bahwa Allah itu tidak melihat kepada rupamu, akan tetapi melihat kepada bathinmu." Rasulullah SAW bersabda: "Bahwa dalam badan anak Adam itu ada segumpal darah. Apabila segumpal darah itu baik, baiklah seluruh badan anak Adam itu. Apabila gumpalan darah itu rusak, rusaklah seluruh badan anak Adam itu. Perhatikanlah, bahwa yang dimaksud itu adalah hati."
Peranan hati itu demikian penting karena didalamnya Allah Ta'ala menaruh Nur yang bersifat Al-Latifah (Kelembutan), Ar- Rabbaniyah (Ketuhanan), dan Ar-Rohaniyah (Kerohanian). Dengan Nur itulah manusia dapat memperoleh ma'rifat. Apabila manusia menyelam ke dalam dirinya dan terus menerus kembali kepada hatinya, terpancarlah baginya mata air ilmu yang disebut "Ilmu Laduniah". Al-Bazari berkata: "Dalam hati itu terdapat sifat 'Al- Latifah', 'Ar-Rabbaniyah', dan 'Ar-Rohaniyah' yang bersangkutan dengan tubuh manusia. Itulah hakikat insan dan itulah yang dapat mencapai arif, tempat Nur yang ditaruh Tuhan padanya." Sedangkan Abdul Qadir Al-Jaelani berucap: "Hati itu tempat ilmu hakikat karena 'latifatur Rabbaniyyah' yang mengatur bagi sekalian anggota badan. Hati itu alat penembus hakikat..."
Sadar sesadar-sadarnya akan pentingnya peranan hati ini dalam diri manusia, syaithanpun menyerang manusia dari sasaran strategis ini, hati. Syaitan menutupi hati manusia agar hati tersebut tidak dapat menerima Nur Illahi. Nabi Muhammad SAW bersabda: "Jikalau tidak bahwa syaithan-syaithan itu menutupi hati anak Adam, sungguh orang-orang yang mu'min itu melihat kepada langit malakut dan buminya." Syaithan menutup hati manusia itu dengan mengembangkan 'nafsul-ammarah bissu' (nafsu yang membawa kejahatan) yang memang sudah ada pada diri manusia. Hawa- nafsu itu mendorong pada tindak kejahatan dan pemenuhan kesenangan pribadi dan syahwat nalurinya. Para guru Tasawwuf mengatakan bahwa syaithan memasuki hati dalam badan manusia melalui sembilan lubang ya'ni kedua mata, kedua lubang telinga, kedua lubang hidung, lubang mulut, dan kedua lubang kemaluan.
Hati manusiapun menjadi buta. Abdul Qadir Al-Jaelani mengatakan bahwa penyebab yang membutakan hati itu adalah diantaranya jahil atau tidak sefaham tentang hakikat perintah Tuhan. Manusia menjadi jahil apabila jiwanya sudah dikuasai oleh sifat jiwa zalim, yang ditanamkan oleh syaithan lewat hawa nafsu manusia, seperti: syirik, zinna, takabur, irihati, dengki, kikir, melihat diri lebih utama, suka membuka rahasia orang lain, suka membawa berita adu domba, bohong, dusta, dan semacamnya yang dapat menjatuhkan manusia ke dalam lembah kehancuran dan kehinaan.
Butanya hati adalah sesungguh-sungguhnya buta manusia. Demikian Allah berfirman dalam Al-Qur'an Surat Al-Haj ayat 46 berbunyi: "... Karena sesungguhnya yang disebut buta itu bukanlah buta matanya, melainkan buta hatinya yang letaknya di dalam dada." Sifat jiwa yang zalim yang menyebabkan butanya hati tersebut adalah suatu penyakit yang apabila tidak segera diobati akan berakselerasi atau beranak-pinak. Hal ini ditandaskan oleh Allah SWT dalam FirmanNya di dalam Al-Qur'an Surat Al-Baqarah ayat 9: "Dalam hati orang-orang kafir itu ada penyakit, lalu Allah menambah penyakit itu, dan bagi mereka siksa yang pedih, karena mereka berdusta" dan Surat At-Taubah ayat 125: "Dan adapun bagi orang-orang yang dalam hatinya ada penyakit, maka bertambah kotorlah di atas kotorannya serta mereka meninggal dunia dalam keadaan kafir."
Demikian berbahayanya penyakit hati yang dihembuskan syaithan lewat hawa nafsu manusia ini sehingga Rasulullah SAW menyatakan jihad akbar melawan hawa nafsu ini. Hal ini dapat dilihat dari sabda-sabda beliau seperti: "Jihad yang paling utama adalah jihad seseorang untuk dirinya dan hawa nafsunya" (Bukhari dan Muslim), "Musuhmu yang paling berbahaya adalah nafsumu yang terletak diantara lambungmu", dan "Kami kembali dari jihad kecil ke jihad besar, yaitu jihad melawan hawa nafsu" (yang diucapkan sekembalinya dari Perang Badr yang akbar itu). Berjuang melawan musuh yang dzahir ada kesudahannya tetapi berjuang melawan syaithan dan hawa nafsu tidak ada habis-habisnya dan tidak berkesudahan hingga akhir hayat atau hari qiamat
2. Sasaran Strategis Syaithan adalah Hati (Qalb)
Hati merupakan inti dari manusia. Hatilah, dan bukan akal, yang menggerakkan seluruh anggota badan. Hati pulalah yang menghubungkan manusia dengan Khaliknya, Allah SWT. Firman Allah dalam Al-Qur'an Surat Az-Zumar 17-18: "Bahwa Allah itu tidak melihat kepada rupamu, akan tetapi melihat kepada bathinmu." Rasulullah SAW bersabda: "Bahwa dalam badan anak Adam itu ada segumpal darah. Apabila segumpal darah itu baik, baiklah seluruh badan anak Adam itu. Apabila gumpalan darah itu rusak, rusaklah seluruh badan anak Adam itu. Perhatikanlah, bahwa yang dimaksud itu adalah hati."
Peranan hati itu demikian penting karena didalamnya Allah Ta'ala menaruh Nur yang bersifat Al-Latifah (Kelembutan), Ar- Rabbaniyah (Ketuhanan), dan Ar-Rohaniyah (Kerohanian). Dengan Nur itulah manusia dapat memperoleh ma'rifat. Apabila manusia menyelam ke dalam dirinya dan terus menerus kembali kepada hatinya, terpancarlah baginya mata air ilmu yang disebut "Ilmu Laduniah". Al-Bazari berkata: "Dalam hati itu terdapat sifat 'Al- Latifah', 'Ar-Rabbaniyah', dan 'Ar-Rohaniyah' yang bersangkutan dengan tubuh manusia. Itulah hakikat insan dan itulah yang dapat mencapai arif, tempat Nur yang ditaruh Tuhan padanya." Sedangkan Abdul Qadir Al-Jaelani berucap: "Hati itu tempat ilmu hakikat karena 'latifatur Rabbaniyyah' yang mengatur bagi sekalian anggota badan. Hati itu alat penembus hakikat..."
Sadar sesadar-sadarnya akan pentingnya peranan hati ini dalam diri manusia, syaithanpun menyerang manusia dari sasaran strategis ini, hati. Syaitan menutupi hati manusia agar hati tersebut tidak dapat menerima Nur Illahi. Nabi Muhammad SAW bersabda: "Jikalau tidak bahwa syaithan-syaithan itu menutupi hati anak Adam, sungguh orang-orang yang mu'min itu melihat kepada langit malakut dan buminya." Syaithan menutup hati manusia itu dengan mengembangkan 'nafsul-ammarah bissu' (nafsu yang membawa kejahatan) yang memang sudah ada pada diri manusia. Hawa- nafsu itu mendorong pada tindak kejahatan dan pemenuhan kesenangan pribadi dan syahwat nalurinya. Para guru Tasawwuf mengatakan bahwa syaithan memasuki hati dalam badan manusia melalui sembilan lubang ya'ni kedua mata, kedua lubang telinga, kedua lubang hidung, lubang mulut, dan kedua lubang kemaluan.
Hati manusiapun menjadi buta. Abdul Qadir Al-Jaelani mengatakan bahwa penyebab yang membutakan hati itu adalah diantaranya jahil atau tidak sefaham tentang hakikat perintah Tuhan. Manusia menjadi jahil apabila jiwanya sudah dikuasai oleh sifat jiwa zalim, yang ditanamkan oleh syaithan lewat hawa nafsu manusia, seperti: syirik, zinna, takabur, irihati, dengki, kikir, melihat diri lebih utama, suka membuka rahasia orang lain, suka membawa berita adu domba, bohong, dusta, dan semacamnya yang dapat menjatuhkan manusia ke dalam lembah kehancuran dan kehinaan.
Butanya hati adalah sesungguh-sungguhnya buta manusia. Demikian Allah berfirman dalam Al-Qur'an Surat Al-Haj ayat 46 berbunyi: "... Karena sesungguhnya yang disebut buta itu bukanlah buta matanya, melainkan buta hatinya yang letaknya di dalam dada." Sifat jiwa yang zalim yang menyebabkan butanya hati tersebut adalah suatu penyakit yang apabila tidak segera diobati akan berakselerasi atau beranak-pinak. Hal ini ditandaskan oleh Allah SWT dalam FirmanNya di dalam Al-Qur'an Surat Al-Baqarah ayat 9: "Dalam hati orang-orang kafir itu ada penyakit, lalu Allah menambah penyakit itu, dan bagi mereka siksa yang pedih, karena mereka berdusta" dan Surat At-Taubah ayat 125: "Dan adapun bagi orang-orang yang dalam hatinya ada penyakit, maka bertambah kotorlah di atas kotorannya serta mereka meninggal dunia dalam keadaan kafir."
Demikian berbahayanya penyakit hati yang dihembuskan syaithan lewat hawa nafsu manusia ini sehingga Rasulullah SAW menyatakan jihad akbar melawan hawa nafsu ini. Hal ini dapat dilihat dari sabda-sabda beliau seperti: "Jihad yang paling utama adalah jihad seseorang untuk dirinya dan hawa nafsunya" (Bukhari dan Muslim), "Musuhmu yang paling berbahaya adalah nafsumu yang terletak diantara lambungmu", dan "Kami kembali dari jihad kecil ke jihad besar, yaitu jihad melawan hawa nafsu" (yang diucapkan sekembalinya dari Perang Badr yang akbar itu). Berjuang melawan musuh yang dzahir ada kesudahannya tetapi berjuang melawan syaithan dan hawa nafsu tidak ada habis-habisnya dan tidak berkesudahan hingga akhir hayat atau hari qiamat.
3. Dzikir Membersihkan Hati
Membersihkan hati dan menolak kehendak hawa nafsu yang keji itu fardlu 'ain hukumnya. Akan tetapi, membersihkan hati itu sangat sukar karena penyakit hati (illat-illat) itu tidak terlihat oleh mata tetapi dapat ditangkap dengan hati. Untuk menandingi illat-illat tersebut harus ada Nur yang tidak dapat ditangkap oleh panca indera tetapi tertangkap oleh hati. Dengan Nur tersebut keluarlah manusia dari gelap gulita ke terang benderang dengan izin Tuhannya.
Cara kaum Sufi membuang penyakit hati tersebut adalah dengan riyadhah dan latihan-latihan yang antara lain meliputi bertaubat, membersihkan Tauhid, taqarrub kepada Allah, mengikuti Sunnah Nabi, memperbanyak ibadah, qiyamul lail, tidak memakan/meminum makanan/minuman yang haram, tidak menghadiri tempat yang menambah nyala api hawa nafsu, tidak melihat pemandangan yang haram, dan menahan diri dari ajakan syahwat. Riyadhah dan latihan khusus kaum Sufi untuk membersihkan hati adalah dengan DZIKRULLAH, berdzikir dengan menyebut nama Allah. Hal ini dilandaskan pada Firman-firman Allah SWT dalam Al-Qur'an seperti: "Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku, niscaya Aku ingat (pula) kepadamu; dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (ni'mat)- Ku." (Al-Baqarah 152), "Wahai orang-orang yang beriman, berzikirlah (dengan menyebut nama) Allah, dzikir yang sebanyak- banyaknya. Dan bertasbihlah kepada-Nya di waktu pagi dan petang", "Adapun orang laki-laki yang banyak berdzikrullah, demikian juga orang-orang wanita, disedikan Allah baginya ampunan dan pahala yang besar" (Al-Ahzab 35), dan "(yaitu) orang-orang yang beriman dan dan hati mereka menjadi tenteram dengan dzikrullah. Ingatlah hanya dengan dzikrullah hati menjadi tenang" (Ar-Ra'd 28). Landasan lain yang digunakan kaum Sufi adalah sabda-sabda Nabi Muhammad SAW yang berbunyi: "Bahwasanya hati itu itu kotor seperti besi yang berkarat dan pembersihnya adalah Dzikrullah", "Bagi setiap sesuatu ada alat pembersihnya, dan alat pembersih hati adalah "DZIKRULLAH", dan "Jauhkanlah Syaithanmu itu dengan ucapan 'LAA ILAAHA ILLALLAH, MUHAMMADUR RASULULLAH', karena syaithan itu kesakitan dengan ucapan kalimat tersebut, sebagaimana kesakitan unta salah seorang kamu sebab banyaknya penunggang dan banjirnya muatan diatasnya", "Dzikir kepada Allah SWT, jadi benteng dari godaan syaithan", dan "Allah berfirman 'LAA ILAAHA ILLALLAH adalah bentengKu. Barang siapa mengucapkannya, masuklah ia kedalam bentengKu. Dan barang siapa masuk ke dalam bentengku, maka amanlah ia daripada azabKu. (Hadist Qudsi)."
Pengertian umum dzikir adalah mengingat Allah; dengan demikian, setiap ibadah (baik yang fardlu maupun sunnat) seperti sholat, zakat, puasa, haji, baca Qur'an, da'wah, belajar, berusaha, dll yang dilakukan semata atas nama Allah atau dengan mengingat Allah adalah dzikir. Akan tetapi disamping melaksanakan hal-hal tersebut, kaum Sufi melaksanakan Thariqat-dzikir secara khusus yang merupakan cara pembersihan ruh pada sisi Allah (hati) secara Sufi, yaitu dengan menyebut LAILAA HA ILLALLAH atau ALLAH baik sendiri-sendiri maupun berjamaah dengan "cara tertentu."
Penulis tidak dapat menyampaikan metode Dzikrullah tersebut oleh karena hanya Guru Sufi yang mursyid dan murid-muridnya yang telah diberi "ijazah"lah yang berwenang mengajarkan metode Tha- riqat-dzikir tersebut. Yang dapat penulis sampaikan adalah bahwa para guru Sufi mengajar murid-muridnya mula-mula berdzikir dengan lidah (dzikir zahar, dzikir dengan suara keras), kemudian meningkat secara teratur kedzikir hati (dzikir khofi, dzikir yang tidak bersuara karena didalam hati) yang awalnya disengajakan kemudian menjadi kebiasaan, lantas meningkat lagi ke dzikir Sirri (dzikir di dalam hatinya hati). Hamba Allah yang sudah mampu berdzikir sirri ini tidak akan pernah terputus dzikirnya meskipun ia terlupa berdzikir. Sementara itu, sang guru pun membantu muridnya yang sedang dalam keadaan salik untuk menundukkan dan mengalahkan hawa nafsunya.
Ulama-ulama Sufi berkata: "Apabila murid-murid mengucapkan dzikir LAA ILAAHA ILLALLAH dengan memusatkan perhatiannya secara bulat kepadaNya, maka terbuka segala tingkat ajaran Thariqat dengan cepat, yang kadang-kadang terasa dalam tempo satu jam, yang tidak dapat dihasilkan dengan ucapan kalimat lain dalam tempo satu bulan atau lebih.
Dengan berdzikir yang dilakukan secara khussu' dengan bimbingan Guru Sufi yang mursyid, murid dapat membersihkan cermin hatinya dari sifat-sifat yang rendah secara dikit demi sedikit. Dalam masa itu, menyesallah sang murid atas dosa-dosa yang dilakukannya sehingga ia mencucurkan air mata dan berkehendak memperbaiki tingkah lakunya. Ia tidak rela untuk berada lagi dalam kelupaan dan kemaksiatan dengan mengikuti hawa nafsunya. Ia bertobat dan minta ampun dan mengikuti petunjuk Tuhannya. Maka cermin hatinyapun mulai dapat menerima dan memancarkan Nur Illahi yang kemudian merasuk keseluruh tubuhnya dan mempengaruhi segala ucapan, tingkah laku, dan perbuatannya dengan segala keutamaan.
4. Hikmah Lanjut dari Dzikir: Qurb, Tenang, Fana, dan Ma'rifat
Kaum Sufi melaksanakan dzikir dengan begitu asyik dan khusyu'nya karena merasakan keni'matan, kelezatan dan kemanisan. Dengan berdzikir, mereka merasa begitu dekat dengan Tuhannya (qurb), merasa tenang jiwanya, merasakan tidak ada sesuatupun bahkan dirinya kecuali Allah (fana), dan memperoleh ilmu pengetahuan yang hakiki (ma'rifat). Abu Sa'id Al-Harraz r.a. berkata: "Apabila Allah Ta'ala hendak mengangkat seorang hambanya menjadi Wali dari hamba-hambanya yang lain, ia membuka kepadanya pintu dzikir, maka apabila ia merasa lezat berzikir, dibuka kepadanya 'babul qurb', kemudian diangkatnya ke Majlisul Uns (tenang bathin), kemudian ditempatkan dia di atas kursi Tauhid, kemudian diangkat daripadanya hijab (penutup) dan lalu dimasukkan dia ke dalam 'darul fardaniyyah', dan dibukakanlah kepadanya 'Hijabul jalali wal'uzmati'. Apabila sampai pada 'jalali wal'uzmati', ia merasa tak ada lagi yang lain, hanya Huwa (Dia) Allah, maka takala itu seorang hamba berada dalam masa fana."
Adapun kejauhan dan kedekatan seorang hamba dari Tuhannya bukanlah berarti kejauhan atau kedekatan tempat dan waktu, tetapi sesungguhnya kejauhan atau kedekatan itu semata-mata karena lupa atau ingat hati terhadap Allah.
Kejauhan itu lupa hati.
Kedekatan itu ingat hati.
Kejauhan itu hijab (tertutup).
Kedekatan itu kasyaf (terbuka).
Hijab itu gelap, Kasyaf itu Nur.
Gelap itu jahil, Nur itu Ma'rifat.
Rasulullah SAW bersabda: "Firman Allah Ta'ala, aku ini sebagaimana yang disangka oleh hambaku, Aku bersama dia apabila ia ingat kepadaKu, apabila ia mengingatKu dalam dirinya, Akupun ingat padanya dalam diriKu, dan apabila ia mengingatKu dalam ruang yang luas, aku pun ingat padanya dalam ruang yang lebih baik." (Hadis Qudtsi diriwayatkan oleh Bukhari). "Guru Sufi berkata: "Hatimu sekarang bersama Tuhanmu dan Tuhanmu bersama engkau, tidak jauh dari engkau, Ia mendekatkan engkau kepadaNya, dan mengenalkan engkau denganNya."
Orang yang menjalankan Thariqat-dzikir secara sungguh- sungguh tidak mempunyai rasa khawatir dalam menjalani hidup, tidak waswas dalam menjalankan sesuatu kebenaran, dan tidak berprasangka buruk terhadap orang lain. Hati mereka tenang, jiwa mereka tenteram. Firman Allah SWT: "... (yaitu) orang-orang yang beriman dan dan hati mereka menjadi tenteram dengan dzikrullah. Ingatlah hanya dengan dzikrullah hati menjadi tenang" (Ar-Ra'd 28). Dengan menjalankan Thariqat-dzikir dan latihan-latihan Thariqat, kaum Sufi merasakan kelezatan ibadah, merasakan makna- makna Qur'an yang mulia, dan Sunnah yang suci, yang belum tentu dapat dirasakan oleh orang-orang lainnya.
Sampai di tingkat tertentu orang yang ber-thariqat-dzikir merasakan seluruh alam dan dirinya hancur lebur masuk ke dalam Allah SWT. Pada saat ini orang tersebut berada dalam tingkat yang fana. Firman allah dalam Al-Qur'an Surat Ar-Rahman ayat 26-27: "Semua yang ada akan fana binasa, yang kekal adalah Tuhan sendiri yang Besar dan Maha Mulia."
Dzikrullah itu dapat mengangkat seorang hamba yang mu'min dari bumi syahwat ke langit ma'rifat. Rasulullah SAW bersabda "Tidak ada seorangpun yang berkata Laa Ilaaha Illallah secara ikhlas dalam hatinya, kecuali Tuhan membukakan pintu langit sehingga ia bisa meninjau arasy." Guru Sufi mengatakan: "dalam asma yang tertinggi, orang dapat meningkat ke langit (mencapai martabat yang tinggi)." Dalam tingkat ma'rifat ini hamba Allah dapat melihat segala yang ajaib dan yang aneh-aneh dan segala rahasia yang besar dan kaifiat yang agung serta hakikat. Imam Ghazali berkata: "Ma'rifat itu berada di atas semua jalan dan wasilah yang penting dan besar. Yang demikian itu adalah wasilah "Al-Kasyafful al-Bathini' atau 'Wasilatul Ilham ar-Ruhi', yang membawa manusia kepada sifat-sifat yang baik, dan membersihkan hati serta menjauhkan diri dari cara berpikir orang-orang materialis."
5. Syariat, Thariqat, dan Hakikat
Penulis menangkap ada suatu kesan bahwa bila orang sudah pada tingkat hakikat maka tidak perlu lagi dia mempedulikan syari'at. Lebih jauh lagi bahkan ada yang mempertentangkan syariat dengan hakikat, syari'at menyalahkan hakikat dan hakikat meremehkan syari'at. Pandangan ini penulis kira tidaklah benar.
Dalam Tasawwuf, hubungan antara syari'at, thariqat, dan hakikat itu sangat erat, satu kesatuan yang bisa dibedakan tetapi tidak dapat dipisahkan apalgi dipertentangkan. Thariqat atau jalan menuju Allah itu meliputi pekerjaan dzahir dan bathin. Pekerjaan dzahir disebut syari'at dan pekerjaan bathin disebut hakikat. Syari'at itu mempersembahkan ibadat kepada Tuhan dan hakikat itu memperoleh musyahadah dari padaNya.
Syari'at terikat dengan hakikat, dan sebaliknya hakikat terikat dengan Syari'at. Tiap-tiap pekerjaan syari'at yang tidak dikuatkan dengan hakikat tidak diterima dan tiap-tiap hakikat yang tidak dibuktikan dengan syari'at pun tidak diterima pula. Imam Al-Ghazali berkata: "Barang siapa mengambil syari'at saja tetapi tidak mau tahu tentang Hakikat, orang itu fasik. Barang siapa mengambil hakikat saja tetapi tidak melakukan syari'at maka dia itu adalah kafir zindiq. Sedangkan yang melakukan syari'at dan mengamalkan tasawwuf, inilah orang yang dinamakan ahli hakikat yang sesungguhnya." Riyadhah dan latihan-latihan tharikat tidak akan berfaedah dan tidak akan mendekatkan dirimu kepada Allah SWT selama perbuatanmu tidak sesuai dengan syari'at dan sejalan dengan Sunnah Rasul.
Hubungan syari'at-thariqat-hakikat bisa dianggap analog dengan islam-iman-ikhsan. Apabila Seorang hamba Allah hanya sibuk dengan ibadah secara dzahir maka ia berada dalam maqam islam atau maqam syari'at. Apabila amal ibadah itu disertai dengan hati yang bersih dan ikhlas serta bebas dari kejahatan maka orang itu berada pada maqam iman atau maqam tharikat. Apabila manusia itu beribadat semata karena Allah, seakan-akan ia melihat Allah dan ia yakin Allah melihatnya maka hamba Allah itu berada dalam maqam ikhsan atau maqam hakikat.
6. Tasawwuf dan Dunia
Anggapan umum tentang Tasawwuf adalah bahwa tasawwuf itu anti dunia dan mereka meninggalkan segala hal yang berbau dunia. Anggapan ini tidak seluruhnya benar. Kaum Sufi menjauhi sesuatu, termasuk dunia, yang menghalangi mereka berjalan menuju Allah. Sikap zuhud ini mereka pegang berdasarkan Firman Allah dalam Al- Qur'an Surat Al-Munafiquun ayat 8 yang berbunyi: "Hai orang-orang yang beriman, janganlah harta-hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barang siapa yang berbuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang rugi."
Akan tetapi apabila sesuatu, termasuk dunia, itu memperkuat ibadah mereka terhadap Allah, apalagi itu perintah Allah dan Rasulnya, merekapun akan mengambilnya. Sikap inipun dilandaskan pada Al-Quran dan Hadis seperti: "Kejarlah apa yang diberikan Tuhan untuk akhirat, tetapi janganlah engkau lupa akan nasibmu di dunia. Berbuat baiklah sebagaimana Tuhan berbuat baik kepadamu, janganlah bercita-cita berbuat di atas muka bumi ini karena Allah tidak menyukai mereka yang berbuat kerusakan" (Q.S Al-Qosas 77), "Makan dan minumlah kamu dari rezki yang dikaruniakan Allah, dan janganlah kamu berlomba-lomba berbuat kerusakan di atas bumi ini" (Q.S. Al-Baqarah 60), dan sabda Nabi Muhammada SAW: "Bukanlah orang baik jika engkau tinggalkan dunia untuk akhirat atau sebaliknya meninggalkan akhirat untuk dunia. Hendaklah mencapai kedua-duanya karena dunia itu jalan ke akhirat dan jangan kamu bergantung kepada manusia" (Riwayat Ibn As-sakir).
Bahkan Ulama-ulama Sufi dari Thariqat-thariqat Syaziliyyah, Naqsyabandiyyah, dan Qadariyyah menganjurkan murid-muridnya untuk memakan makanan yang enak-enak, memakai pakaian yang bagus-bagus, tidur diatas kasur yang empuk, memiliki harta benda, dan sebagainya asal semuanya itu dapat mendekatkan muridnya kepada Allah. Ulama-ulama tasawwuf itu berkata: "Tidak mengapa mengikuti syahwat yang diperkenankan untuk diri kita, apabila ternyata dapat menguatkan ibadat seperti: tidak mengapa memakai pakaian yang bagus untuk melahirkan nikmat Tuhan. Tidak mengapa makan dan minum yang lezat-lezat untuk kepentingan kesehatan anggota badan bersyukur dan menjadi kuat panca indera." Ahli ma'rifat Syazili mengatakan "Makan dan minumlah kamu dari makanan yang baik-baik, minumlah minuman yang sedap, tidurlah di atas tempat tidur yang empuk, berpakaianlah dengan pakaian yang halus, dan perbanyaklah dzikir kepada Tuhanmu." Syeikh Bahauddin Naqsyabandi berkata: "Tiapa macam makanan harus baik dan beribadatpun harus baik pula". Syeikh Abdul Qadir Al-Jaelani berkata: "Harta benda itu adalah khadammu dan engkau khadam Allah. Maka hidupmu didunia ini harus menjadi manusia tauladan dan hidupmu di akhirat kelak menjadi orang yang mulia."
7. Penutup
Tasawuf itu bukanlah ilmu atau amal yang dapat dibahas secara ilmiah atau filsafati karena tasawuf hanya dapat ditangkap oleh hati, dan bukan oleh akal yang mempunyai keterbatasan. Rahasia Tasawuf tidak dapat dinikmati dengan hanya mempelajari buku-buku atau mendengarkan ceramah-ceramah karena buku-buku dan ceramah- ceramah tersebut tidak dapat mengekspresikan peristiwa bathiniyyah yang terjadi dalam dunia tasawwuf secara sempurna dan akurat yang disebabkan oleh keterbatasan bahasa manusia. Hikmah tasawwuf ini hanya dapat dirasakan dengan melakukan rhiyadhah dan latihan-latihan thariqat dengan tekun dan khussyu' di bawah bimbingan Guru Sufi yang Mursyid.
Karena kendala-kendala diatas dan, yang lebih penting lagi, karena keawaman penulis dalam bidang Tasawuf maka tulisan ini jauh dari sempurna. Bila ada kebenaran maka kebenaran itu datangnya dari Allah SWT, bila ada kesalahan maka kekeliruan itu sepenuhnya karena kekhilafan penulis. Untuk itu, penulis mohon ampun dan petunjuk dari Allah SWT serta mohon ma'af dan koreksi dari Akhi dan Ukhti sekalian.
Share:

Perjalanan Menuju Dunia Tasawuf

Taha A. Baqi Surur

Tasawuf Islam terbagi menjadi dua bagian. Pertama, berkaitan dengan pemeliharaan dan pembersihan jiwa. Berhias dengan budi yang luhur lagi sempurna. Dalam bahasa istilah disebut Ilmu Mu'amalah.
Pada bagian ini menjadi titik pusat akhlak dan ilmu ruhani, bahkan tidak berlebihan jika dikatakan bahwa, orang-orang sufi adalah guru besar ilmu ruhani di dunia ini, Mereka benar-benar memahami dan mendalami penyakit ruhani serta pemusnahnya, sehingga berhasil menyingkap hijab (tabir) penutup ruhani.
Sekalipun Eropa telah menggunakan peralatan moderen di dalam ilmu jiwanya, dan di bawah teori-teorinya berhasil membuka ikatan-ikatan jiwa, akan tetapi masih saja tidak mampu mengentasnya dari kebodohan bertingkat atau berganda. Berbeda dengan orang-orang sufi yang telah menemukan sesuatu yang lebih mengagumkan dalam persoalan ruhani mereka. Mereka berhasil menggapai pengetahuan yang sempurna. Mereka bawa terbang tinggi menerobos medan cahaya yang bersinar terang, menuju fithrah serta teladan yang membangkitkan kemanusiaan yang mulia nan suci, yang tidak mengenal pertikaian dan saling mencela, tidak mengenal dnegki, marah, dan permusuhan, tidak pula mengenal kefasikan, perdebatan dan dekadensi moral.

Kedua, berkaitan dengan penggemblengan ruhani, ibadah dan mahabbah (cinta), beserta segala aktifitasa yang ada dalam ibadah dan mahabbah. Yaitu pribadi yang bersih bersinar, munculnya ilham dan anugerah Ilahi.
Dalam meneliti bagian kedua ini ada beberapa syarat. Syarat utama ialah mendalami al-Quran dan as-Sunnah. Ia disebut Thariq (jalan) dan terdiri dari empat perjalanan.
1. Perjalanan gerak (amaliah) lahir, yaitu perjalanan ibadah dan berpaling dari gemerlap dunia. Membersihkan diri dari daya tarik dunia. Menyendiri (uzlah) untuk beribadah, dzikir dan istighfar serta selalu melaksanakan kewajiban yang menjadi tanggung jawabnya.
2. Perjalanan amaliah batin dan senantiasa menelitinya, dengan memurnikan akhlak, menyucikan hati, menyucikan ruh, mengintai dan menekan nafsu, berhias dengan akhlak dan sifat-sifat yang suci serta perilaku yang senantiasa memancar dari Nur Muhammad.
3. Perjalanan penggemblengan dan training jiwa. Dalam hal ini Rasulullah pernah memberikan ilustrasi dalam sabdanya, "Kita telah kembali dari jihad kecil, menuju jihad akbar." Dengan ujian yang akbar ini, kekuatan dan kekuasaan ruh akan semakin bertambah. Jiwa lalu memisah dari debu-debu, menjadikannya bersih murni, hingga hakikat dan rahasia alam terpateri di dalamnya. Cahaya Ilahi memancar di dalam hatinya. Nampak keindahan dan kebesaran alam, kehalusan dan rahasianya. Dengan demikian bangkitlah rasa, yang kemudian membentuk gerak hidup dalam indera yang umum, yang dapat merasakan kelezatan yang tinggi. Ilmu yang cemerlang di dalam jiwa ini lalu menjadi sifat yang tetap, berikut terbukanya tabir penutup secara sedikit demi sedikit sehingga sampailah keoada ridha dan cahaya utama.
4. Perjalanan menuju fana yang sempurna. Yaitu dengan sampainya ruh kepada tingkat menyaksikan Allah dengan sebenarnya. Terbuka (kasyaf)nya alam yang samar dan rahasia-rahasia Allah. Kemudian silih berganti muncul cahaya dan terbukanya tabir, hingga kelezatan jiwa dengan ketenteraman. Puncaknya adalah bayangan suci di hadapan Ilahi.
Perjalanan-perjalanan spiritual itu tidak dapat di tulis atau diceritakan, karena berada di luar bayangan dan fantasi manusia, di alam mana Allah SWT Maha Agung dan tercinta dapat dilihat mata hati. Benar-benar pemandangan yang di luar kerja mata wadak. Tiada pernah didengar oleh telinga dan tidak sekalipun terbersit di dalam sanubari.
Perjalanan ini merupakan perjalanan yang sangat berbahaya. Pernah seorang sufi kehilangan keseimbangannya, kehilangan ingatan, dan akhirnya terjerumus kepada kondisi yang memang sudah menjadi suratan takdir.
Adapun bagi mereka yang telah sampai dan berhasil bertahan di sana. Sungguh dia telah memperoleh kemantapan beribadah, penyaksian yang luhur, kenyenyakan yang melelapkan jiwa, tenteram dan menguasai alam.
Sahal bekata, "Seseorang yang berhasil menemukan jati dirinya, adalah orang yang salat di tempat terbuka. Ketika selesai dari salatnya, bubarlah pula bersamanya beribu-ribu malaikat yang ia saksikan."
Sementara Ibnu Abqari mengatakan, "Seseorang yang benar-benar menemukan jati dirinya, adalah orang yang salat di tempat terbuka. Begitu bubar dari salatnya, tidak satupun malaikat yang mengikuti orang tersebut, karena tidak tahu kemana perginya."
(Posting: Ali Abidin Date: Thu, 5 Aug 1999
Share:

Paradigma Tasawuf & Masa Depan Islam

Prof. Dr. Syafiq A. Mughni
Al-Salam 'Alaikum wa Rahmat Allah wa Barakatuh
Yang terhormat Bapak Rektor/Ketua dan Anggota Senat Institut Ibu-Ibu dan Bapak-Bapak Undangan Segenap Sivitas Akademika IAIN Sunan Ampel
Persoalan besar yang muncul di tengah-tengah umat manusia sekarang ini adalah krisis spiritualitas. Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, dominasi rasionalisme, empirisisme, dan positivisme ternyata membawa manusia kepada kehidupan modern di mana sekularisme menjadi mentalitas jaman dan karena itu spiritualisme menjadi suatu anatema bagi kehidupan modern. Seyyed Hosein Nasr menyayangkan lahirnya keadaan ini sebagai the plight of modern men, nestapa orang-orang modern (Nasr, 1987). Keadaan ini merupakan kelanjutan dari apa yang telah berkembang di Eropah pada akhir abad pertengahan sebagai reaksi terhadap jaman sebelumnya di mana doktrin agama (Nasrani) yang dirumuskan oleh gereja mendominasi semua aspek kehidupan, sehingga mengakibatkan bangsa Barat tetap berada pada jaman kegelapan. Lahirnya jaman modern di Eropah serta merta masuk ke dunia Islam, dan begitu kuatnya pengaruh itu sehingga krisis yang sama juga hampir dialami oleh beberapa bagian dunia Islam (Cox: 181-190) yang memilih strategi pembangunan sekular dan karena itu menjauhkan semangat agama dari proses modernisasi.

Sekalipun krisis spiritualitas menjadi ciri peradaban modern, dan modernitas itu telah memasuki dunia Islam, masyarakat Islam tetap menyimpan potensi untuk menghindari krisis itu. Sebabnya ialah sebagian besar dunia Islam belum berada pada tahap perkembangan kemajuan negara-negara Barat. Keadaan ini sangat menguntungkan karena memiliki kesempatan untuk belajar dari pengalaman mereka dan membangun strategi pembangunan yang mampu mengambil aspek-aspek positif dari peradaban Barat dan sekaligus menghilangkan aspek-aspek negatifnya. Hal ini bisa dilakukan dengan mempertahankan dasar-dasar spiritualisme Islam agar tetap terjaga kehidupan yang seimbang (ummatan wasathan).
Dalam sejarah Islam terdapat khazanah spiritualisme yang sangat berharga, yakni sufisme. Ia berkembang mengikuti dialektika jaman sejak Nabi Muhammad saw sampai sekarang baik dalam bentuk yang sederhana dan ortodoks, maupun yang elaborate dan heterodoks. Perkembangan sufisme mencerminkan ragamnya pemahaman terhadap konsep akhlaq dalam kehidupan sosial dan ihsan dalam kehidupan spiritual.
Jika dilihat dalam konteks sejarah, ragamnya pemahaman itu muncul dalam beberapa fase perkembangan. Pada awal Islam, terutama periode Makkah, begitu jelas al-Qur'an menekankan pentingnya spirirualisme itu. Tetapi hal ini paralel dengan orientasi kesadaran profetik, di mana pengalaman spiritual tidak hanya ditujukan bagi spiritualisme itu sendiri, tetapi bermakna bagi pembangunan etika yang menggerakkan sejarah kehidupan umat Islam. Dalam tahap selanjutnya, spiritualitas itu muncul dalam bentuk kehidupan zuhd ketika umat Islam menikmati kemewahan dengan terciptanya imperium yang luas.
Kehidupan zuhd menjadi reaksi terhadap kehidupan yang sekular dan sikap penguasa dinasti Umayyah di istana mereka, yang kebanyakan bersikap kontras terhadap kesalehan dan kesederhanaan Khalifah yang Empat. Selama dua abad sejak kelahiran Islam, tasawuf merupakan fenomena individual yang spontan. Ia menjadi ciri dari mereka yang dikenal dengan sebutan zuhhad (orang-orang zuhud), nussak (ahli ibadah), qurra' (pembaca al-Qur'an), qushshash (tukang kisah) dan bukka' (penangis). Mereka menjauhkan diri dari hingar bingar kemewahan duniawi dan ketegangan politik di masanya. Setelah itu, ketika cara hidup sufi dikenal sebagai cara tertentu, istilah sufi secara pelan-pelan mengantikan nama zuhhad, nussak dan lain-lain. Muncullah beberapa nama besar sufi, seperti Ibrahim ibn Adham (w. 174/790), Rabi'ah al-'Adawiyyah (w. 185/801), dan lain-lain. (Rahman: 132). Kemudian, muncul organisasi sufi yang ditunjukkan kepada pertemuan yang informal dan longgar untuk diskusi agama, dan latihan spiritual, yang disebut halqah. Pada masa ini mucul para sufi, seperti Sahl al-Tustari (w. 283/896) dan al-Junayd al-Baghdadi (w. 297./910). Pembacaan dzikir bisa dilaksanakan di mana saja, termasuk masjid. Keadaan ini berlangsung sampai dengan abad ke-5/ke-11.
Sejak abad ke-6/ke-12, praktek yang simpel ini berkembang menjadi konsep spiritual yang elaborate dan terorganisasi dalam bentuk tarekat (thariqah). Organisasi ini memiliki hirarki kepemimpinan, inisiasi atau baiat, formula dzikir dan silsilah yang diyakini sampai kepada shahabat Nabi. Jadi, tasawuf yang semula menjadi amalan individual atau pemikiran spekulatif sekarang menjadi terstruktur dan kemudian berkembang secara massal. Pasca abad ke-6/ke-12 dunia Islam didominasi oleh tarekat yang memainkan peran besar dalam kehidupan sosial dan politik (Hodgson: 204).
Dunia Islam pasca abad ke-6/ke-12 ditandai dengan lahirnya tarekat-tarekat yang kemudian menjadi jaringan internasional yang pengikutnya bebas lalu-lalang melintasi batas-batas kekuasaan dinasti. Pada akhir abad itu muncul tarekat Qadiriyyah yang dinisbahkan kepada Abd al-Qadir al-Jilani (w. 561/1166). Ia menjadi salah satu tarekat yang paling kuat dan dikenal dengan kesalehan dan humanitarianismenya. Berdiri di Baghdad, ia berkembang ke barat di Afrika Utara dan kemudian Afrika Hitam, ke timur sejauh Indochina dan ke utara di Turki. Sedikit lebih kecil dari tarekat itu adalah Suhrawardiyyah, yang berkembang dari ajaran tasawuf 'Umar al-Suhrawardi, yang meninggal dekat Zanjan, Persia, pada tahun 632/1236. Tarekat ini ditemukan di Afghanistan dan anak benua India.
Sekitar akhir abad ke-8/ke-14 tarekat ini memberikan inspirasi terhadap lahirnya tarekat Khalwathiyyah, yang didirikan di Persia oleh 'Umar al-Khalwathi (w. 800/1398). Ia berkembang di Turki dan selama abad ke-12/ke-18 masuk ke Mesir dan Timur Tengah. Sejaman dengan 'Abd al-Qadir al-Jilani, di kota Bashrah, Iraq, Ahmad al-Rifa'i (w. 578/1182), mendirikan tarekat Rifa'iyyah. Ia berkembang ke Mesir, Turki dan beberapa bagian Asia Tenggara. Abu al-Hasan al-Syadzili (w. 656/1258) juga melahirkan tarekat yang berpengaruh di Sudan Timur. Tarekat ini pada abad ke-9/ke-15 direformasi dalam bentuk tarekat Jazuliyyah di Marokko. Ajaran-ajaran spiritual Ahmad al-Tijani (w. 1230/1815) di Fez juga membuahkan tarekat Tijaniyyah yang berkembang di Aljazair, Marokko dan Afrika Barat.
Ahmad Yasawi (w. 562/1167) mendirikan Yasawiyyah di Turki. Tarekat ini berpengaruh di Turkestan Barat, dan dari tarekat induk itu lahir tarekat Bektasyiyyah, yang dikembangkan oleh Hajji Bektasy. Ia berkembang di Anatolia. Tarekat lain yang berkembang dari Asia Tengah ke Turki dan wilayah Islam timur adalah Naqsyabandiyyah yang didirkan pada abad ke-8/ke-14 di Bukhara oleh Baha' al-Din Naqsyaband (w. 791/1389). Naqsyabandiyyah berkembang di India, Cina dan Kepulauan Nusantara. Di India ia diperkenalkan oleh Baqi Billah pada abd ke-10/ke-16 dan dikembangkan oleh salah seorang muridnya Ahmad Sirhindi pada abd ke-11/ke-17 yang dikenal dengan tarekat mujaddidiyyah karena pikiran-pikirannya yang reformatif terhadap tarekat itu. Oleh Syaikh Ahmad Khatib Sambas (w. 1878), yang tinggal dan wafat di kota suci Makkah, ajaran Naqsyabandiyyah digabung dengan Qadiriyyah dan dibawa oleh murid-muridnya ke Indonesia (van Bruinessen: 89-92).
Tarekat yang sangat berpengaruh di kalangan bangsa Turki adalah Mawlawiyyah yang diajarkan oleh Jalal al-Din Rumi (w. 672/1273). Karena tekanan Kemal Ataturk ia kemudian terbatas di Timur Tengah, terutama Aleppo. Di anak benua India, di samping Qadiriyyah dan Naqsyabandiyyah, tarekat yang utama adalah Chistiyyah, didirikan oleh Mu'in al-Din Chisti, yang meninggal di Ajmer pada tahun 633/1236 (Rahman: 158-165; Schimmel: 244-258)
Ada dua sebab yang menjadikan tarekat begitu menarik masyarakat Islam sejak abad ke-6/12. Pertama ialah faktor al-Ghazali (w. 505/1111). Dalam suasana pertentangan klaim jalan untuk mencapai kebenaran, ia telah mempelajari dengan cermat berbagai aliran utama Islam, dan pada akhirnya setelah mengalami krisis intelektual, ia menemukan tasawuf sebagai jalan yang paling valid untuk melihat kebenaran. Begitu kuatnya pengaruh pikiran al-Ghazali yang bukan saja menata kembali teologi Islam dan membersihkan tasawuf dari elemen-elemen tidak Islami, al-Ghazali berhasil menjadikan tasawuf sebagai bagian integral dari ajaran Islam. Melalui al-Ghazali tasawuf menerima pengakuan ijma' umat Islam (Rahman: 140; Hodgson: 203). Kedua ialah jatuhnya imperium Islam dan dengan demikian muncul perasaan tidak aman di kalangan masyarakat Islam. Pada tahun 1258 Baghdad dihancurkan oleh bangsa Mongol yang kemudian menguasai wilayah-wilayah Persia dan Asia Tengah. Wilayah-wilayah itu mengalami kehancuran baik oleh Mongol maupun penguasa-penguasa berikutnya. Dalam keadaan seperti itu, masyarakat mencari perlindungan yang akhirnya menemukan tarekat sebagai institusi yang mengisi kevakuman pemerintah yang stabil dan menjamin tatanan sosial. (Hodgson: 202). Ketiga ialah keyakinan bahwa tasawuf mampu mengantarkan manusia berkomunikasi langsung dengan Tuhan dan jaminan itu diberikan oleh tarekat.
Ajaran tarekat tentang berkah, syafaat, karamah dan ziarah kubur berfungsi mempertautkan batin manusia dengan Tuhan melalui tarekat. Keempat ialah bahwa tasawuf yang diajarkan oleh tarekat bersikap sangat toleran terhadap keyakinan dan praktek keagamaan lokal. Sikap ini sangat menarik mereka yang baru saja masuk Islam dan setengah Islam.
Dengan luasnya pengaruh tarekat di dunia Islam pada abad-abad pertengahan, maka ia mengambil alih peran para penguasa dan pasukan Islam dalam membuka wilayah baru bagi Islamisasi. Gerakan-gerakan tarekat melakukan pengislaman di kalangan penduduk Afrika Hitam, anak benua India dan Asia Tenggara. Faktor Islamisasi itu bukan saja terletak pada toleransi dan akomodasi kepercayaan dan praktek pra-Islam, tetapi juga pada kemampuan para tokoh sufi untuk menampilkan diri sebagai orang suci yang memiliki kesaktian supernatural. Kisah Farid al-Din Ganj-i Syakr (w. 1245 M) tampaknya menggambarkan pola Islamisasi melalui tasawuf. Ia adalah salah seorang syaikh dari tarekat Chistiyyah. Baba Farid, begitu ia dipanggil, tinggal di suatu tempat yang sekarang disebut Pak-pattan, sebuah desa di dataran India utara.
Suatu tempat yang berdebu, rumah-rumahnya terbuat dari tanah liat, dihuni oleh orang-orang yang terkenal buta huruf, takhayul dan suka berkelahi. Baba Farid datang ke desa itu untuk menjauhkan diri dari kemewahan dan godaan istana di Delhi. Selama bertahun-tahun ia melakukan zuhud, menolak kesenangan duniawi, dan menghabiskan waktunya untuk sembahyang. Di Pak-pattan ia berhenti di pinggir desa di bawah pohon, membuka tikar shalatnya, dan tinggal beberapa lama sendirian. Setelah beberapa saat ia mulai mengenal pengunjungnya. Orang-orang mengenalnya sebagai orang suci. Orang miskin datang untuk minta kesembuhan, jimat dan nasehat tentang persoalan keluarga. Orang-orang juga memintanya untuk menghubungkan dengan tuan tanah dan penarik pajak. Pejabat, pemilik tanah, dan orang kaya datang minta nasehat. Kepala suku datang minta bantuan dalam menyelesaikan pertentangan di kalangan mereka. Pedagang mencari perlindungan agar melewati desa itu dengan aman. Ketika reputasinya berkembang, Baba Farid mendapatkan dana yang cukup untuk membangun ribath (semacam padepokan). Murid-murid berdatangan untuk tinggal bersamanya. Di mata pengikutnya, kedisiplinan, kerajinan shalat dan keberhasilannya sebagai dukun adalah karamah yang bersumber dari berkah Tuhan. Cerita terus bergulir, dan ia kemudian dikeramatkan. Atas namanya orang-orang masuk Islam (Mughni, 1992: 90; Lapidus: 444-445).
Di samping sisi peran positif itu, tarekat ternyata memunculkan sisi negatif berupa pesimisme, kultus dan sinkretisme. Karena itu, pada abad-abad modern muncul gerakan yang melakukan reformasi terhadap berbagai tarekat. Ahmad Sihrindi merupakan contoh yang melakukan kritik terhadap berbagai penyimpangan baik di dalam ajaran tasawuf maupun akibat yang ditimbulkannya. Sungguhpun kritik semacam ini telah pernah dilakukan oleh Ibn Taymiyyah pada abad ke-7/ke-13, tetapi gerakan reformasi ini memiliki pengaruh yang lebih menentukan pada masa pasca Ahmad Sirhindi. Setelah itu, lahir gerakan yang lebih radikal menolak sama sekali tasawuf dan tarekat baik karena penyimpangannya dari ajaran Islam yang autentik mapun akibatnya yang menjadikan umat mengalami kemunduran. Gerakan anti tarekat ini, seperti yang dipelopori oleh Muhammad 'Abduh dan Muhammad Iqbal, sangat berpengaruh sejak awal abad ke-20 dan tampaknya melapangkan jalan bagi proses modernisasi masyarakat Islam (Hourani: 142; Nasution: 191).
Apa yang diterangkan di atas menggambarkan bahwa di satu pihak perkembangan tasawuf itu merupakan reaksi terhadap keadaan sosial, politik dan agama kontemporer. Tasawuf yang bersifat individual dan longgar adalah reaksi terhadap kehidupan yang sekular dan hedonis. Tasawuf seperti itu kemudian berkembang menjadi tarekat sebagai reaksi terhadap kevakuman kekuasaan dan kekacauan politik. Di lain pihak, perkembangan tasawuf merupakan hasil proses dialektika masa sebelumnya. Pada jaman Islam klasik, tasawuf merupakan kepentingan individu. Setelah itu, pada jaman pertengahan, ia berubah menjadi tarekat dan bersifat sosial. Pada jaman modern, muncul arus yang menentang tarekat dan bahkan tasawuf. Pada masa pascamodern, akankah tasawuf dan tarekat itu muncul lagi menjadi semangat jaman?
Berbagai kritik telah dilakukan oleh sebagian kalangan terhadap modernisme yang mempunyai pengaruh begitu kuat dalam peradaban modern. Kritik itu diwakili oleh para penganjur dan penganut post-modernisme, termasuk beberapa sarjana yang menaruh perhatian terhadap Islam. Di dunia Islam kaum modernis mewakili suatu kelompok intelektual Muslim yang secara baik memanfaatkan budaya Barat untuk kepentingan kemajuan Islam. Namun, Fazlur Rahman melihat mereka sebagai kelompok yang tercabut dari akar dan tradisi Islam yang telah berkembang selama berabad-abad. Akar dan tradisi itu diabaikan begitu saja sehingga pembaharuan yang mereka lakukan kehilangan originalitasnya.
Kritik berikutnya diberikan oleh neo-tradisionalisme yang diajukan oleh Seyyed Hossein Nasr. Ia melihat terjadinya malapetaka dalam manusia modern akibat hilangnya spiritualitas yang sesungguhnya inherent dalam tradisi Islam. Ia menyatakan bahwa pada abad yang lalu, gerakan kaum modernis dan kaum reformis di dunia Islam bekerjasama -- walaupun keduanya jelas bertentangan dalam masalah-masalah hukum dan teologi -- untuk menghancurkan seni dan kebudayaan Islam serta menciptakan kegersangan dalam jiwa seorang Muslim sehingga selama beberapa dekade terjadilah penyusupan manifestasi dunia industrial modern yang begitu buruk akibat pengabaian terhadap signifikansi spiritual Islam oleh mereka yang berusaha memodernkan dunia Islam menurut model Barat. Namun, konsepsi Islam ini pasti menciptakan kevakuman dalam jiwa kaum Muslimin dan sangat menghancurkan kekuatan yang dapat menentang pengaruh kebudayaan asing yang melemahkan (Nasr, 1993: 216-217).
Keluhan Rahman terhadap rendahnya originalitas pemikir-pemikir Muslim dan keluhan Nasr terhadap kevakuman spiritualitas menunjukkan pentingnya apresiasi terhadap tradisi Islam. Tentu saja tradisi itu tidak mungkin bertahan dalam bentuk dan isinya yang asli tetapi harus ditempatkan dalam posisi dialog dengan perkembangan jaman. Dalam rangka dialog itu kita harus melihat kecenderungan masyarakat di masa depan dan apa pengaruhnya terhadap kehidupan agama. Setelah itu, kita membangun strategi kebuadayaan di masa depan.
Pada masa yang akan datang tampaknya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta industrialisasi akan berlangsung terus irreversible dan sangat menentukan peradaban umat manusia. Namun demikian, masalah-masalah moral dan etika akan ikut mempengaruhi pilihan strategi dalam mengembangkan peradaban di masa depan. Hal ini telah terlihat dalam gejala awal bagi meningkatnya tuntutan hak-hak asasi manusia, ajakan untuk menjadikan agama sebagai motivasi pembangunan, dan kuatnya semangat agama dalam kehidupan privat maupun publik. Di samping itu, mobilitas intelektual yang memiliki komitmen agama benar-benar telah terjadi, dan ini akan sangat mempengaruhi corak peradaban di masa yang akan datang.
Dalam kondisi kebudayaan seperti itu, ada beberapa kemungkin yang akan terjadi pada tingkat corak keberagamaan umat Islam. Kemungkinan itu akan sangat ditentukan oleh berbagai faktor yang saling menarik, misalnya kekuatan internal atau faktor dinamik ajaran Islam dengan kekuatan eksternal. Mana di antara faktor-faktor itu yang paling dominan dalam menentukan perjalanan Islam sangat sulit diramalkan. Karena itulah sering kali perhitungan futurolog ternyata meleset dari kenyataan. Dengan demikian, kita hanya bisa memperkirakan beberapa kemungkinan corak agama yang akan menjadi mentalite masyarakat di masa mendatang.
Pertama ialah kecenderungan bahwa Islam akan semakin kuat menjadi established religion, yaitu agama yang sangat menekankan aspek-aspek normatif. Di sini ulama' tetap memegang peran penting dalam rangka menjaga kemurnian agama, dan karena itu mereka memiliki otoritas untuk berbicara atas nama Islam yang sesuai dengan ajaran al-Qur'an dan Sunnah.
Kedua ialah kecenderungan bahwa Islam akan menjadi ethical religion. Dalam kecenderungan ini, Islam lebih berfungsi sebagai ajaran etika akibat proses modernisasi dan sekularisasi yang secara perlahan-lahan hanya memberikan peluang yang sangat kecil bagi penghayatan teologis dan normatif. Keadaan ini telah dialami oleh agama Protestan di negara-negara Barat. Advokasi terhadap pemahaman Islam kontekstual dan bukan tekstual sesungguhnya ikut melicinkan jalan bagi lahirnya Islam sebagai agama etika.
Ketiga ialah kecenderungan Islam menjadi spiritual religion. Dalam keadaan ini Islam dihayati dan diamalkan sebagai sesuatu yang spiritual sebagai reaksi terhadap perubahan masyarakat yang sangat cepat akibat kemajuan ilmu pengetahuan, teknologi dan industrialisasi. Orang tidak akan lagi menghiraukan rigiditas teologis dan ritual lebih daripada kepuasan dan keamanan batiniyah. John Naisbitt telah meramalkan kecenderungan ini akan semakin kuat pada masa yang akan datang (Naisbitt: 275).
Dalam konteks dunia Islam, ketiga corak Islam itu memiliki kesempatan yang sama untuk berkembang sesuai dengan tingkat perkembangan umumnya negara-negara Islam. Bahkan dunia Islam bisa melahirkan sintesis yang kreatif dari tiga corak itu. Pemikiran sintesis ini pernah disuarakan oleh Ibn Taymiyyah pada abad ke-13 ketika melihat suatu keadaan di mana sebagian masyarakat Islam melaksanakan agama secara verbal dan formal, sebagian terjerumus ke dalam kultus para wali, dan sebagian lagi terjerumus ke dalam sikap antinomian yang mengabaikan ketentuan syari'ah (Memon, 1976). Ibn Taymiyyah menyatakan penekanan yang sama terhadap semua sisi ajaran Islam.
Sintesis juga bisa dilakukan dengan menekankan satu sisi ketika orang sedang berada pada ujung sisi yang lain. Dalam keadaan seperti ini, tasawuf akan memiliki peran penting dalam mempertahankan keseimbangan budaya agama. Ia akan sangat berguna dalam menjinakkan perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi dan industrialisasi. Ia juga menjadi penting dalam mengisi kegersangan rohaniyah dan memberikan makna spiritual bagi keberhasilan duniawi. Lebih dari itu, dalam situasi yang tidak stabil akibat kevakuman institusi politik, tasawuf dalam bentuk tarekat bisa mengambil peran itu. Sebagai tambahan, tasawuf bisa menjadi wacana spiritual untuk menghindari keberagamaan yang formalistik dan simbolik (Arifin: 39-40). Dengan demikian, tasawuf akan menjadi komponen penting yang harus diperhitungkan dalam strategi membangun peradaban di masa depan.
Spiritualisme baik dalam bentuk tasawuf, ihsan maupun akhlaq menjadi kebutuhan sepanjang hidup manusia dalam semua tahap perkembangan masyarakat. Untuk masyarakat yang masih terbelakang, spiritualisme harus berfungsi sebagai pendorong untuk meningkatkan etos kerja dan bukan pelarian dari ketidakberdayaan masyarakat untuk mengatasi tantangan hidupnya. Sedangkan bagi masyarakat maju-industrial, spiritualisme berfungsi sebagai tali penghubung dengan Tuhan.
Namun demikian, perlu diingat bahwa tasawuf tidak bisa dipisahkan dari kerangka pengamalan agama, dan karena itu harus selalu berorientasi kepada al-Qur'an dan Sunnah. Inilah yang mungkin disebut oleh HAMKA sebagai 'tasawuf modern', yakni tasawuf yang membawa kemajuan, bersemangat tauhid dan jauh dari kemusyrikan, bid'ah dan khurafat. Karena itu, gambaran seorang sufi yang sejati ialah nabi kita Muhammad saw. Seperti telah disebut di muka, spiritualisme pada generasi pertama Islam dikembangkan bukan untuk spiritualisme per se, tetapi berfungsi untuk mendorong gerak sejarah ke depan dan pada saat yang sama membuat hidup menjadi seimbang. Namun demikian, dalam kehidupan riil mungkin saja terjadi bahwa salah satu aspek ajaran Islam ditekankan sesuai dengan kebutuhan masyarakat pada jamannya. Bagi masyarakat terbelakang, Islam harus digambarkan sebagai ajaran yang mendorong kemajuan. Bagi masyarakat maju-industrial, Islam harus ditekankan sebagai ajaran spiritual dan moral. Strategi ini sebenarnya ditujukan untuk menyeimbangkan ayunan pendulum. Ketika pendulum itu bergerak ke ujung kiri, kita harus menariknya ke kanan. Demikian juga, ketika ia bergerak ke ujung kanan, kita harus segera menariknya ke kiri. Dengan cara ini, maka akan terbangun kehidupan yang seimbang antara lahir dan batin, duniawi dan ukhrawi, serta individu dan masyarakat. Keseimbangan ini harus menjadi ruh bagi peradaban di masa depan.
Dalam akhir pidato ini, saya ingin menyampaikan ungkapan terima kasih yang setulus-tulusnya kepada mereka yang berjasa terhadap diri saya selama meniti karir sebagai pengajar di IAIN Sunan Ampel. Pertama ialah kedua orang tua yang telah membangun suasana keluarga yang damai sehingga memungkinkan saya terus belajar tanpa hambatan yang berarti. Kedua ialah keluarga saya, isteri dan kedua anak tercinta yang tidak henti-hentinya memberikan inspirasi terhadap pentingnya menatap masa depan dengan penuh optimisme. Ketiga ialah guru-guru saya yang dengan penuh ikhlas memberikan bimbingan yang sangat berarti dalam mengarungi kehidupan yang sangat kompleks ini. Keempat ialah segenap warga sivitas akademika IAIN Sunan Ampel yang telah menungkinkan promosi ini berlangsung pada hari ini. Kelima ialah siapa saya yang tidak mungkin satu per satu namanya disebut dalam kesempatan. Mereka semua sangat berhak menerima ucapan terima kasih yang setulus-tulusnya. Semoga Allah swt membalas jasa mereka dengan apa yang terbaik bagi mereka.
Bi Allah al-Tawfiq wa al-Hidayah Al-Salam 'Alaykum wa Rahmat Allah wa Barakatuh
Share:

Kebangkitan Neo-Wahabi

Duta Masyarakat, 2005.
Sejak bergulir Reformasi dapat kita tandai dengan adanya kebangkitan berbagai aliran gerakan. Tidak terkecuali Islam. Pada umumnya, gerakan-gerakan baru Islam ini mengusung faham Salafi. Tercatat sejumlah gerakan dalam aliran ini: Fron Pembela Islam (FPI), Lasykar Jihad (LJ), Majelis Mujahidin Indonesia (MMI), Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), Lasykar Ahlussunah wal Jamaah, dan lain-lain. Beberapa di antaranya sudah membubarkan diri. Bahkan, Partai Keadilan Sejahtera (PKS) masuk kategori gerakan ini.

Bagaimana pengelompokan ini didasarkan? Dalam tradisi Islam, aliran Salafi mengacu pada pandangan madzhab salaf. Karakteristik menonjol aliran ini, di antaranya, seruan kembali ke Al Qur’an dan Sunnah Nabi dengan kecenderungan penafsiran secara tekstual dengan mengabaikan konteks, dan semangat meniru generasi salaf al-shalih yang dielu-elukan sebagai masa paling ideal.

Ibnu Taymiah dikenal sebagai penggagas awal teologi Salafi. Istilah Salafi, bisa dikatakan, muncul sejak Ibnu Taymiah ini. Kata “salafi” merujuk ke generasi salaf al-shalih. Sepeninggal Ibnu Taymiah, teologi Salafi makin berkembang. Beberapa kurun selanjutnya, di tanah Najd, Semenanjung Arabia, Muhammad bin Abdul Wahab mengembangkan teologi Salafi dengan lebih spesifik dan makin tajam. Pengembangan teologi oleh Muhammad bin Abdul Wahab dikenal dengan aliran Wahabi. Bagi pengikut Wahabi, istilah ini terdengar kurang baik. Mereka lebih suka disebut pengikut Salafisme.
Pada awal abad 20, pemikiran Ibnu Taymiah dan Muhammad bin Abdul Wahab, sedikit banyak, menjadi pemantik pemikiran Muhammad Abduh. Berangkat dari perpaduan ajaran Ibnu Taymiah dan pencarian Muhammad Abduh, gerakan salafi lantas dikembangkan dengan lebih tertata melalui gerakan Ikhwanul Muslimin. Tokoh paling penting pemberi warna ideologi gerakan ini adalah Sayyid Qutub. Di kalangan islamisis (pakar kajian keislaman), pemikiran Sayyid Qutub disebut dengan istilah Salafi Modern.

Di Indonesia, pemikiran-pemikiran Salafi dibawa oleh KH Ahmad Dahlan. Muhammadiyah berdiri. Organisasi ini menyebut dirinya sebagai persyarikatan kaum Puritan Islam. Untuk pertama kali, dalam disertasi doktornya, Deliar Noer menyematkan Muhammadiyah sebagai gerakan Modernis. Sebuah istilah, yang saya duga, untuk menstigma organisasi sejawatnya, Nahdlatul Ulama (NU) agar identik dengan gerakan kampungan.

Hal menarik dari perjalanan Muhammadiyah, selama beberapa dasawarsa awal, organisasi ini lebih cenderung mengadopsi Salafisme Wahabi. Perubahan penting terjadi menjelang tahun 80-an beberapa saat setelah terjadi Revolusi oleh para mullah Syiah di Iran. Keberhasilan Revolusi Iran tahun 1979 menciptakan kegairahan baru dunia Islam. Dimana-mana orang menganggap bahwa Revousi ini adalah awal dari kebangkitan dunia Islam yang selama beberapa abad mengalami kemunduran. Muslim Indonesia tidak terkecuali. Meski Revolusi itu terjadi di Iran, tetapi Ikhwanul Muslimin, yang bersumber di Mesir, mendapat berkah. Ikhwanul Muslimin mendadak populer. Di Indonesia, terjemahan buku-buku Sayyid Qutub laris. Apa sebab? Bagi kalangan Muslim Indonesia, pemikiran Sayyid Qutub lebih bisa diterima, karena sama-sama Sunni. Selain itu, Sayyid Qutub mampu meramu pemikirannya dengan amat tertata. Bersamaan dengan tren ini, Muhammadiyah mengadopsi pemikiran Salafi Modern. Sebuah pemikiran yang lebih moderat dibanding Salafi Wahabi. Apa alasannya? Wahabi gampang menyalahkan dan membid’ahkan kaum Muslim yang tidak sepaham. Saya kurang sepakat dengan pendapat Karen Armstrong yang menyatakan bahwa Qutubisme (merujuk ke pemikiran Sayyid Qutub) lebih radikal dibanding Wahabi, seperti tulisannya di The Guardian, 11 Juli 2005. Yang lebih tepat, sebaliknya.

Pilihan Muhammadiyah ini tidak terlepas dari peran anak-anak muda kala itu. Kemunculan tokoh seperti Amien Rais, Kuntowijoyo, Syafi’I Maarif, Affan Ghafar, Syafiq Mughni, M Amin Abdulla, Abdul Munir Mulkhan, Moeslim Abdurrahman -–untuk menyebut beberapa nama saja-- adalah penanda kebangkitan Muhammadiyan baru. Di tangan mereka, Muhammadiyah menjadi organsisasi Islam moderat dan makin disegani. Diperkuat lagi dengan akomodasi politik Suharto dalam perlakuannya terhadap organisasi-organisasi Islam, dengan memanjakan organisasi Islam Puritan ini. Wajah keras Wahabisme di tangan mereka perlahan luntur. Apa buktinya? Perang TBC (Taqlid, Bid’ah & Churafat) yang selama bertahun-tahun menjadi agenda utama, perlahan-lahan mereda. Bahkan beberapa tahun lalu, sebagian warga Muhammadiyah mulai mempertanyakan keefektivan cara dakwah “keras” ini. Mereka mengusulkan dakwah kultural, yang tidak lagi dengan gampang menyebut orang lain bid’ah hanya karena berdakwah dengan pendekatan budaya setempat. Di tangan tokoh-tokoh moderat ini pemikiran Ikhwanul Muslimin tidak serta merta dijiplak utuh. Mereka membuang jauh-jauh ide pan-Islamisme, mengambil hanya sisi pemikiran gerakan sosialnya. Suatu saat, Amien Rais mengatakan: Tidak ada negara Islam.

Apakah usaha mereka berhasil? Selama beberapa dekade, iya. Namun, di tataran massa Muhammadiyah, kegandrungan pada pemikiran Sayyid Qutub tidak hanya terbatas pada pemikiran sosialnya, tetapi juga pada politisnya. Pada saat suara-suara warga ini tidak ditampung oleh elit-elit Muhammadiyah, mereka lebih memilih bermain di luar area. Gerakan usroh, tarbiyah, halaqah, dan sejenisnya, yang menjamur di lingkungan kampus dan masjid, merupakan bentuk luapan kegelisahan anak-anak muda dan suara protes tidak langsung. PKS berkembang dari gerakan protes ini.

Di samping itu, kepulangan para veteran perang Afghanistan pasca kejatuhan Uni Soviet memberi warna baru. Persentuhan langsung dengan para pejuang dari negara lain selama perang pembebasan Afghanistan makin memperteguh Wahabisme mereka. Pengalaman tempur di medan perang menambah keyakinan bahwa otot dan senjata menjadi identitas baru. Sebuah identitas kekerasan.

Akan tetapi, sekembali mereka di Tanah Air, ide Wahabisme yang mereka bawa tidak diberi tempat oleh elit Muhammadiyah kala itu. Mereka lantas mendirikan atau berkumpul dalam organisasi-organisasi baru, seperti Lasykar Jihad, Fron Pembela Islam, Majelis Mujahidin Indonesia dan Hizbut Tahrir. Organisasi ini adalah diantara organsisasi yang menjadi pilihan warga Muhammadiyah yang menganggap organisasi ini terlalu lembek dalam menyuarakan kepentingan baru mereka. Bahkan, dalam kaitan dengan Syariat Islam, Muhammadiyah pernah dituduh sebagai banci oleh warganya yang radikal. Dulu, warga Muhammadiyah garis kanan, seperti Ali Imran, Amrozi, Ja’far Umar Thalib dan Abu Bakar Baasyir, tidak mendapat tempat di Muhammadiyah. (Ahmad Najib Burhani, Menebak Masa Depan Liberalisme di Muhammadiyah, Islam Progresif, message no. 1519). Mereka inilah Neo-Wahabi itu, gerakan Wahabi baru yang dipadu dengan kemampuan tempur yang dibawanya ke tengah-tengah masyarakat.

Kini, sejak Muktamar Muhammadiyah ke-45 di Malang, 3-8 Juli 2005, para veteran itu sudah kembali menguasai Muhammadiyah. Tokoh-tokoh moderat tersingkir. MUI pun sepertinya sudah mulai direngkuhnya. Apa indikasinya? Fatwa-fatwa keluaran MUI baru-baru ini terlihat memiliki kesan terwarnai oleh tangan-tangan Neo-Wahabi tersebut. Mereka mengagungkan teks secara berlebihan dengan mengabaikan konteks Mereka mudah membid’ahkan dan mensesatkan segala bentuk perbedaan. Gampang menyerbu bukan kelompok sepaham, tanpa toleransi. Gampang mencibir kalangan Islam yang bukan pengikut mati generasi salaf al-shalih. Kata-kata “bid’ah”, “kafir”, “musuh Islam”, “penghancur Islam dari dalam”, dan seterusnya, mudah menjadi ungkapan harian.

Dengan kebangkitan Neo-Wahabi ini, kita bisa menebak arah perjalanan Islam Indonesia ke depan. Wajah Islam Indonesia mulai memunculkan ketidak-ramahan. Akankah semua ini dibiarkan?

Sumber: Duta Masyarakat
Share:

Siapa Merusak Citra Islam?

Siapa Merusak Citra Islam?
Oleh Peter Rosler Garcia


Adakah pelaku-pelaku tertentu dari luar negeri yang mau merusak citra baik Islam dengan merekrut putra-putra Islam menjadi teroris? Siapa mereka? Untuk membongkar identitas pelaku misterius itu harus dilacak aliran dana kelompok teroris itu hingga tiba di tangan penerima pelaku teror setempat di Indonesia. Semua teroris membutuhkan dana besar untuk membiayai kegiatan mereka. Dengan mengikuti aliran dana yang mencurigakan, pemerintah Thailand misalnya bisa menangkap Hambali. Sudah jelas juga, bahwa kelompok teroris harus menggunakan sistem perbankan internasional. Tetapi di mana terletak sumber-sumber dana teroris itu?

Negara-negara semacam Irak (dulu), Iran, Suriah sulit sekali bisa menjadi sumber dana teroris. Mereka ketat diawasi dinas-dinas rahasia beberapa negara. Aliran dana yang berasal dari negara itu pasti terus dicurigai. Itu alasannya, sumber dana teroris harus dicari di negara lain. Satu nama yang berulang kali didengar tentu saja Saudi Arabia. Warga negara sekutu AS itu menanam modal di mana-mana, termasuk di AS dan di Jerman, menyimpan dana di mana-mana dan memindahkan dana ke seluruh dunia secara bebas sekali.

Negara itu cocok juga dari segi lain. Di Saudi Arabia ada banyak pengikut ekstremisme Islam bernama Wahabisme. Mereka melawan siapa saja yang tidak mau ikut tafsiran AlQuran mereka, apalagi ”orang kafir”. Kebanyakan teroris Islam ternama, termasuk Osamah Bin Laden, datang dari Saudi Arabia. Organisasi-organisasi Wahabi, yang sangat kaya US-Dollar, hasil ekspor minyak bumi, mengirimkan dana ke seluruh dunia Islam untuk membangun masjid, pesantren, madrasah dan lain-lain. Tetapi dolar itu tidak hanya berbau minyak bumi, juga berbau hasutan darah kerusuhan agama. Sang penerima uang diminta mendukung Syariah dan mengakhiri toleransi agama. Itu dibuktikan di beberapa negara Afrika, Asia dan bekas Uni Soviet. Mungkin saja, dengan menerima dana organisasi-organisasi itu, beberapa masjid dan pesantren di Indonesia sudah kena ekstremisme Wahabi itu.

Sudah jelas bahwa Saudi Arabia merupakan sarang terorisme paling berbahaya di dunia. Dengan begitu, Wahabisme-kah yang mau merusakkan citra baik Islam? Mengapa? Mereka mau benturan antarperadaban Barat dan Islam? Mengapa AS sampai sekarang mendukung Saudi Arabia? Dan mengapa AS menyerbu Irak yang punya resim sekuler dan tidak punya senjata pembunuh massal, dan bukan sumber utama terorisme di dunia, yaitu Saudi Arabia? Mengapa pemerintah AS melindungi Saudi Arabia yang nyata-nyata merupakan negara asal pembajak 9/11? Mengapa Washington merahasiakan bagian laporan Komisi Kongres Penyidik 9/11 yang membuktikan keterlibatan Saudi Arabia dalam peristiwa berdarah itu? Begitu banyak pertanyaan – dan tiada jawaban.
Bisa diduga, di sini ada udang di balik batu, tetapi udang berwajah iblis. Pasti dukungan AS kepada Saudi Arabia punya motif kurang baik. Mungkin hanya minyak bumi Saudi Arabia yang penting untuk Washington. Atau peran Saudi Arabia sebagai sarang terorisme lebih menguntung AS daripada merugikan AS. Apa saja alasannya, pemerintah AS sudah menjadi pendukung utama sumber terorisme nomor satu di dunia. Walaupun begitu, yang sangat sulit bisa dibuktikan adalah satu master plan (rencana strategis) Washington untuk merusakkan citra baik Islam. Pemerintah AS juga tidak berusaha keras untuk menyelesaikan konflik Arab-Israel di Timur Tengah, walaupun konflik itu juga adalah sumber terorisme internasional yang maha penting. Timbul ke-san, pemimpin AS memang lebih dungu atau lebih culas daripada yang bisa dibayangkan.

Tetapi siapa saja pihak di luar negeri yang mau merusak citra baik Islam tidak bisa berhasil tanpa dukungan kelompok pelaku di dalam negeri. Ekstremisme ideologi atau agama adalah tanah paling subur untuk terorisme. Dan ekstremisme bisa muncul di seluruh partai atau agama. Sejarah sudah membuktikan bahwa tiada kekecualian satu pun dari paradigma itu. Juga tiada umat agama apa saja yang bisa menghindarkan hal itu. Alasannya, umat terdiri dari kaum manusia, dan setiap orang bisa keliru atau salah memahami hakikat agama. Itulah esensi kaum manusia. Dialah yang memikirkan bahwa kaum manusia bisa mengerti hakikat agama tanpa kekeliruan ingin menyamakan orang dengan Allah. Dan itu satu dosa besar di semua agama.

Dalam sejarah Kristen, misalnya, dari abad ke-12 sampai abad ke-18 terjadi ”Inquisitio”: Kelompok ekstremis Kristen merajalela di banyak wilayah Eropa, melarang ilmu pengetahuan alam, menindas kaum Kristen liberal, mengusir orang Islam dan Yahudi, membunuh ribuan ”orang bida’ah”. Tetapi kebanyakan korban itu bukan orang bida’ah nyata, mereka hanya dituduh ”bida’ah” oleh musuh pribadi mereka. Hal itu mirip dengan situasi di Indonesia setelah G30S: Siapa saja bisa dituduh anggota atau simpatisan PKI. ”Inquisitio” adalah hasil tafsiran picik kata-kata buku suci yang tidak punya hubungan apa pun dengan hakikat agama Kristen yang berdasarkan atas cinta kepada orang lain.

Ekstremis juga ada di antara umat Yahudi. Dalam tahun 1995 mereka membunuh Perdana Menteri Israel Yitzhak Rabin. Kelompok Yahudi ortodoks mau mengusir orang Arab dari Palestina dan mengambil alih semua tanah mereka. Mereka sedang membangun gedung-gedung baru di tanah orang Palestina, dan mereka bertanggung jawab atas rencana pemerintah Israel yang mau memasukkan koloni-koloni Yahudi ortodoks di tanah Palestina ke dalam perlindungan tembok Israel. Mereka merasa berhak untuk bersikap begitu atas interpretasi agama Yahudi yang hanya berdasarkan kata-kata tetapi tidak atas inti buku-buku suci Yahudi.

Juga agama Islam tidak bebas dari tafsiran buku-buku suci yang harafiah. Terkadang di negara Islam, musik, foto dan film dilarang. Juga, ilmu pengetahuan alam atau sosial didiskriminasikan sebagai ”perbuatan Barat” yang kurang cocok dengan pemikiran Islam. Ekstremis Taliban di Afganistan melanggar kebanyakan hak asasi manusia bangsa mereka dan meledakkan patung Budha di Bamian, yang menjadi milik budaya seluruh kaum manusia. Beberapa kelompok Islam, misalnya, Wahabi di Saudi Arabia, merasa berhak membunuh ”kafir” tanpa memperhitungkan bahwa semua orang adalah sesama manusia. Kelompok ekstremis Al Qaeda sudah mengotori citra baik agama Islam di seluruh dunia dengan membantai ribuan orang tidak berdosa.

Dini hari sampai pemimpin-pemimpin Saudi Arabia lebih sadar bahwa citra baik Islam diancam oleh ekstremisme Islam. Di Konferensi Dewan Masjid Se-Dunia ke-19 di Makkah, Raja Saudi Arabia Fahd bin Abdul Aziz Ali Suud menyerukan para ulama Islam perangi pemikiran Islam ekstrem. Fahd menyebutkan bahwa masalah kebodohan yang dialami para pemuda kaum Muslimin telah dimanfaatkan oleh jaringan teroris untuk merekrut mereka. Jaringan apa? Pemerintah Saudi Arabia telah memecat lebih dari 700 imam masjid dan melarang 1.500 tokoh Islam lainnya untuk memberi pelajaran di masjid karena diduga ekstremis.

Dari segi itu penting sekali pemikiran aliran Islam di Indonesia yang menolak arabisme, wahabisme dan puritanisme, dan yang berpendapat bahwa Islam harus menerima budaya lokal sehingga tidak terkesan kaku dan rigid. Sesuai dengan pendapat mereka, upaya menjiplak Islam seperti yang berkembang di Timur Tengah amat tidak mungkin. Juga, Islam adalah ajaran yang toleran, inklusif, pluralis dan terbuka terhadap isu-isu kontemporer. Konsepsi Islam itu bisa menjadi perlindungan paling efektif kepada segala macam ekstremisme dari luar negeri. (Hamburg, 5 Oktober 2003).

Peter Rosler Garcia, Ahli Politik dan Ekonomi Luar Negeri, Hamburg, Jerman.

Sekian Semoga Berkesan


Wassalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Abdul Ghafur Abu Syaifullah
Share:

Adab Hormat dan Tabarruk: Sunnah Nabi yang Dilupakan

oleh: DHB Wicaksono
A'uudzu billahi minasy syaithanirrajiim
Bismillahirrahmanirrahiim
Walhamdulillah wassholatu wassalamu 'ala Rasulillah wa 'ala aalihi
wasahbihi wa man tabi'ahum bi-ihsanin ilaa yaumiddin

BAGIAN 1

PENGENALAN

Dewasa ini, di kalangan ummat Islam urban, khususnya yang tidak dibesarkan dalam tradisi ulama-santri, penghormatan terhadap persona ulama' atau Awliya' Allah semakin berkurang. Islam dan pengetahuan yang terkandung di dalamnya hanya dipandang sebagai sesuatu yang tekstual yang dapat dipelajari dengan cara membaca begitu saja di buku-buku ataupun sumber-sumber online.

Padahal sejak 1400 tahun yang lampau, tradisi keilmuan Islam amat mementingkan interaksi langsung antara sang guru, sang ulama dengan murid-muridnya. Dalam interaksi inilah, tersampaikan tidak hanya apa-apa yang tersurat, melainkan juga yang tersirat. Diriwayatkan bagaimana Imam Malik rahimahullah ketika meriwayatkan suatu hadits Nabi sall-Allahu 'alayhi wasallam pada murid-muridnya, begitu berhati-hati beliau, dan tak jarang hingga menangis, karena kerinduan mendalam pada persona Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam yang beliau sampaikan perkataan atau perbuatannya. Jelas adab beliau seperti ini jarang turut termaktub dalam kitab-kitab beliau, kecuali kalau kita berguru pada mereka-mereka yang memang memiliki jalur keilmuan hingga beliau, yang mewarisi tidak hanya ilmu beliau, tetapi juga adab beliau.

Keterasingan ummat Islam saat ini akan adab-adab seperti ini, salah satunya adalah karena derasnya arus reformasi menyesatkan dari salah satu aliran Islam yang muncul beberapa ratus tahun lalu di Najd [daerah timur semenanjung Arabia]. Aliran Islam ini, akhir-akhir ini dengan berbagai bentuknya, dengan dukungan pendanaan dan organisasi yang hebat semakin deras mencuci otak sekalangan ummat Islam hatta mereka yang tadinya dibesarkan dalam tradisi Ahlussunnah al Jama'ah. Akibatnya, tradisi luhur Ahlussunnah wal Jama'ah berupa adab penghormatan terhadap Awliya' dan Ulama' serta barang maupun anggota badan mereka, yaitu praktik "Tabarruk", dianggap sebagai suatu perbuatan syirik oleh mereka, suatu dosa besar yang tak diampuni.

Benarkah tuduhan mereka seperti itu? Apa sebenarnya hakikat syirik, dan apa pula hakikat ber-adab serta bertabarruk? Samakah antara keduanya sehingga mereka yang menjalankan praktik tabarruk serta merta dapat dihukumi syirik?


Jadi, apakah syirk itu? Sebagai muslim dan mukmin, insha Allah, kita telah memahami, bahwa salah satu makna kalimat tauhid, Laa ilaha IllaLlah, adalah "laa ma'buuda illaLlah", tidak ada yang patut disembah kecuali Allah. Juga tidak ada yang patut dijadikan tujuan kecuali Allah ["Laa Maqshuuda illaLlah"]. Sedangkan syirk, sebagai kebalikan dari Tawhid, adalah menjadikan sesuatu selain Allah, yaitu makhluk ciptaan Allah, sebagai sesuatu yang disembah pula di sisi Allah. Na'udzu billah min dzalik. Subhanallah. Maha Suci Allah yang tidak memerlukan seorang penolongpun di sisi-Nya, dan tak ada sesuatu pun yang menyamai-Nya.

Berangkat dari makna tawhid dan syirk mendasar tersebut, agak naif, jika kemudian penghormatan pada hamba-hamba Allah yg shalih-, ditafsirkan sebagaii suatu perbuatan syirk.

ANTARA PENGHORMATAN DAN PENYEMBAHAN

Hormat terhadap Ulama dan Awliya Allah, perlulah kita bedakan antara "penghormatan" dengan "penyembahan atau pengabdian", antara "respect" dengan "worship". Seluruh Muslim tahu bahwa Atribut ketuhanan atau "Lordship" atau "Uluhiyyah" hanyalah milik Allah 'Azza wa Jalla. Tapi kita dapat dan bahkan diwajibkan dalam Islam untuk memberi penghormatan pada sesama makhluk Allah dalam level yang berbeda-beda, sesuai dengan sebab yang ditentukan Allah SWT.

Untuk memperjelasnya insya Allah, akan kita beberkan beberapa dalil nash shahih di bawah. Namun sebelumnya, izinkan saya memberikan sedikit ilustrasi.

Ketika, misalnya, saya diundang oleh tiga orang berbeda. Sebut saja misalnya 1) adik angkatan saya ("yunior") si Fulan, 2) Pak Abdullah yang relatif sebaya (kolega) saya, dan 3) Prof. X, yang adalah supervisor kerja saya.

Jelas, dalam memenuhi undangan mereka masing-masing, tidak dapat saya perlakukan secara sama. Kepada si Fulan, yang notabene adalah yunior saya, mungkin saya cukup memenuhi adab (etika) standar, misalnya berpakaian menutup aurat, datang tepat waktu, sekalipun nyaris terlambat, atau malah boleh terlambat, asalkan saya menelponnya lebih dahulu.

Terhadap Pak Abdullah, yang relatif sepantar dan sebaya, saya harus tingkatkan adab saya. Selain, adab standar, saya harus berusaha tepat waktu, menjaga perasaan beliau agar tidak tersinggung, dll.

Kemudian untuk memenuhi undangan Prof. X (misal saat saya baru kenal dengan beliau), saya lebih mesti berhati-hati. Saya mesti menyiapkan jas, pakai dasi kalau perlu. Persiapkan apa yang mesti dibicarakan. Datang lebih awal. Lebih baik kita yang menunggu daripada ditunggu, dll. Apalagi, kalau yang mengundang adalah perdana menteri Belanda misalnya. Wah, tentu harus lebih awal dan penuh kehati-hatian dalam persiapannya.

Demikian pula perlakuan yang mesti kita berikan pada orang tua kandung kita, guru, dengan orang yang lebih tua yang baru kita temui di jalan. Jelas masing-masing ada beda adab. Terhadap orang tua kita cium tangannya, jangan membantah, dll. Terhadap guru kita taati nasihatnya dan berlaku sopan (bahkan hormat terhadap guru yg kafir pun adalah ajaran Islam). Adapun terhadap orang yang lebih tua yang biasa, kita bisa pakai adab hormat yang standar.

Demikian sekedar ilustrasi.

ADAB HORMAT TERHADAP ULAMA DAN AWLIYA: TINJAUAN NAQL

Adapun adab hormat terhadap Ulama atau Awliya Allah ini yang perlu diingatkan kembali. Sebetulnya dengan membaca ilustrasi dan contoh di atas, adalah wajar jika kita menaruh hormat pada para 'ulama atau awliya Allah ini mengingat kedudukan mereka yang tinggi di sisi Allah. Berikut saya kemukakan beberapa dalil:

1. dalam suatu hadits diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Musnadnya (5:323), dan juga oleh Al-Hakim dalam Al-Mustadrak (1:122), dan ia menyatakannya shahih, dan ini disetujui oleh Imam Al-Dhahabi, Nabi SallAllahu 'alayhi wasallam bersabda:

"Man lam yuwaqqir kabirana wa lam yarham saghirana fa laysa minna."

"Barangsiapa tidak menaruh hormat pada orang yang lebih tua di antara kami atau tidak mengasihi yang lebih muda, tidaklah termasuk golongan kami"

Ini yang disebut "tawqir an-Naas", menghormati manusia lain, dan mesti disesuaikan dengan status manusia tersebut, khususnya di mata Allah.

2. Dalam hadits lain
"anzilu al-nasa manazilahum"
"Berikan pada manusia sesuai dengan status/kedudukan mereka"

diriwayatkan oleh Muslim dalam bab Introduksi di kitab Shahihnya, tanpa sanad, Sakhawi mengatakan dalam al-Jawahir ad-Durar bahwa hadits ini hasan, dan al-Hakim dalam kitab Ma'rifat ulum al-Hadits mengatakan bahwa hadits ini shahih dan diriwayatkan oleh Ibn Khuzayma.

Jelas tidak mungkin menyamakan semua orang, termasuk dalam penghormatannya. Penyamaan penghormatan akan mirip dengan paham Komunisme. Islam tidak mengajarkan demikian. Karena itu adalah wajar, jika misalnya, dalam suatu sesi salat Jumat, saya datang lebih awal, agar dapat membersihkan tempat salat misalnya semata karena khatib salat Jumat yang akan datang lain dari biasanya, atau datang lebih awal agar dpt lebih khusyu' mendengar khutbah dari sang khatib yang lain dari biasanya.

3. Allah juga memerintahkan
"wa la tansaw al-fadla baynakum" (2:237)
"Jangan kau lupakan kelebihan/kehormatan di antara kamu"

4. "inna akramakum `indallahi atqakum" (49:13)
"Yang paling mulia di sisimu adalah yang paling taqwa di antaramu"


Jelas, kalau kita lihat ada seseorang yang mesti kita hormati karena
taqwa-nya kepada Allah, ya, kita mesti menghormati dia sesuai dengan kehormatan yang Allah karuniakan padanya seperti tersebut dalam ayat ini.


Dalam suatu hadits Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam lainnya:

5. "Al-Ulama-u waratsatul Anbiya"
"Ulama adalah pewaris Nabi", diriwayatkan oleh Bukhari dalam
Shahihnya sebagai mu'allaq, dan juga oleh Ahmad (5:196), diriwayatkan
pula oleh Tirmidhi, Darimi, Abu Dawud, Ibn Hibban, Ibn Majah, Bayhaqi
dalam kitabnya Syu'abul Iman ("Cabang-cabang Iman), dan juga oleh lainnya.

Sudah sepantasnya kita menghormati mereka dengan penghormatan setinggi-tingginya (yang tidak sampai pada level "worship"! "penyembahan").

PENUTUP BAGIAN 1

Demikian pada bagian pertama telah kita ulas sebagian dalil pentingnya beradab menghormati para Ulama' dan Awliya'. Insya Allah, pada bagian berikutnya, kita akan membahas latar belakang praktik adab hormat ini serta melihat beberapa praktik penghormatan dan kecintaan pada para Ulama' dan Awliya' yang lazim dikenal sebagai tabarruk, yang secara literal bermakna mencari barakah.


PENGANTAR BAGIAN 2

Pada bagian pertama, telah dijelaskan secara singkat bagaimana adab hormat dan tabarruk merupakan bagian integral tradisi keilmuan Islam selama lebih dari 1400 tahun ini. Telah dijelaskan pula secara singkat, dasar naqli pentingnya penghormatan pada mereka yang lebih tua, atau mereka yang memang dimuliakan Allah Ta’ala karena ketinggian ilmunya atau ketinggian akhlaq dan ketaqwaannya. Sedikit ilustrasi telah pula diberikan yang menjelaskan bahwa penghormatan pada ulama atau awliya’ sebenarnya adalah perluasan dari penghormatan yang memang kita lakukan sehari-hari secara berbeda pada orang yang berbeda pula.

Apakah kemudian yang menjadi latar belakang sekaligus hikmah dari perlunya interaksi langsung kebanyakan kita sebagai murid, dengan para ulama, atau para awliya’? Dan apakah latar belakang serta hikmah perlunya adab hormat serta tabarruk dalam interaksi kita dengan mereka ini?

PENTINGNYA BERSAHABAT DENGAN AWLIYA’ DAN ULAMA’: TINJAUAN NAQL

Pada bagian pertama telah diberikan sedikit ilustrasi bagaimana Imam Malik rahimahullah mengajarkan hadits kepada murid-murid beliau. Dalam tradisi Islam, esensi interaksi (atau dalam terminologi islamnya: SUHBAH, asosiasi, persahabatan) antara seorang guru dan murid, seorang ‘aalim dengan muridnya, tidaklah semata demi transfer ‘ilmu atau pengetahuan, atau “knowledge”, namun lebih daripada itu, adalah sebagai transfer “HIKMAH” atau “Wisdom”, sebagai esensi dan inti dari Pengetahuan.

Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman:
“Yu’tii alhikmata man yasyaau waman yu’ta alhikmata faqad uutiya khayran katsiiran wamaa yadzdzakkaru illaa uluu al-albaabi “ [QS Al Baqarah 2:269]
“Allah menganugerahkan al hikmah (kefahaman yang dalam tentang Al Qur'an dan As Sunnah) kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang dianugerahi hikmah, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. Dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran.”

Dalam bahasa guru kami, Mawlana Syaikh Nazim Al-Haqqani qaddasAllahu sirrahu, Hikmah ini disebut pula sebagai Pemahaman atau “Understanding”. Menurut beliau, pemahaman adalah suatu anugerah atau karunia Allah. Pemahaman lebih dari sekedar penghafalan. Orang yang paham tidak sekedar hafal apa yang tersurat dari suatu teks keagamaan, baik itu Quran ataupun Hadits, tetapi ia juga faham apa yang tersirat di balik yang tersurat, dan mampu menderivasi dari pemahaman tersebut, aplikasi untuk kondisi dan situasi yang berbeda sesuai tuntutan ruang dan zaman.

Sebagaimana pula dengan hal-hal lain dalam dunia ‘sebab-akibat’ di alam fana ini, pemahaman atau hikmah ini tidaklah bisa didapat kecuali dengan mencari sabab/jalan untuk memperolehnya.

“fa-atba'a sababaan” [QS 18:85]
"...maka diapun menempuh suatu jalan."

Beberapa kali kata “sabab” disebut dalam Surat Al-Kahfi. Ini menunjukkan pentingnya mencari jalan untuk mendapatkan sesuatu; tidaklah mungkin Allah Ta’ala mengaruniakan sesuatu tanpa kita terlebih dahulu mencarinya, kecuali bagi orang-orang tertentu yang Ia kehendaki.

Dan jalan/asbab beroleh hikmah itu, tiada lain adalah dengan berkhidmat pada ulama’ dan awliya’ sebagai pewaris Nabi sall-Allahu ‘alayhi wasallam. Sebagaimana Allah Ta’ala perintahkan kita mengulang-ngulang doa berikut dalam salat-salat kita setiap hari:

“Ihdinas shirathal Mustaqiim… Shirathalladziina an’amta ‘alayhim ghayril maghdhuubi ‘alayhim wa lad-daalliin” [QS 1:6-7]

“Tunjukilah kami jalan yang lurus, jalan mereka yang Engkau karuniakan ni’mat, bukan mereka yang Kau murkai, dan bukan pula mereka yang tersesat”.

Allah Ta’ala memberikan petunjuk atau “hint” di sini, bahwa jalan lurus tersebut hanya dapat ditemukan dengan mencari dan berkumpul (baca: berinteraksi, bersuhbat, bersahabat) dengan orang-orang yang Ia SWT karuniakan ni’mat (baca: hidayah, taufiq dan hikmah, atau “shiratal mustaqiim” tadi) pada mereka, dan bukan berkumpul dengan mereka yang Ia murkai atau tersesat. Allah Ta’ala di sini, dalam menjelaskan “Shirathal Mustaqiim” tersebut tidak langsung serta merta menyebut Al Quran atau Al-Kitab [buku tertulis]. Al Quran atau Al-Kitab baru disebut pada ayat berikutnya di surat berikutnya:

“Alif Laaam Miiim. Dzaalikal Kitaabu Laa Rayba fiihi, Hudan lil Muttaqiin” [QS 2: 1-2]

“Alif Laam Miim, Inilah Al-Kitab yang tak ada keraguan padanya. Petunjuk bagi mereka yang bertaqwa”.

Allah Ta’ala tidak langsung menggandengkan “Al-Kitab” dengan “Shirathal Mustaqiim”, melainkan Ia SWT melampirkan syarat “Shirathal Ladziina an’amta ‘alayhim….” Jalan mereka yang Kau beri ni’mat….dst” sebelum beranjak ke Al Quran atau Al-Kitab.

Dan siapakah “Alladziina an’amta ‘alayhim…” “orang-orang yang Kau beri ni’mat” itu?

Menilik firman Allah Ta’ala lainnya:

“waman yuthi'i allaaha waalrrasuula faulaa-ika ma'a alladziina an'ama allaahu 'alayhim mina alnnabiyyiina waalshshiddiiqiina waalsysyuhadaa-i waalshshaalihiina wahasuna ulaa-ika rafiiqaan” [QS. 4:69]

"Dan barangsiapa yang menta'ati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi ni'mat oleh Allah, yaitu : Nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya.

Mereka yang diberi ni’mat oleh Allah itu tiada lain adalah para Nabi, Shiddiiqiin atau Awliya’ Allah, yaitu mereka yang benar dan menepati janjinya pada Allah di hari perjanjian di alam ruh [lihat QS 33:23] untuk taat pada-Nya dan pada Rasul-Nya, kemudian orang-orang yang syahid, yang menyaksikan kebenaran risalah Rasul, dan disusul hamba-hamba Allah yang salih. Ayat tersebut ditutup dengan “Wa hasuna ulaa-ika rafiiqan”, “dan merekalah sebaik-baik teman”, yang menunjukkan sekali lagi pentingnya berteman, bersahabat, berinteraksi dengan para pewaris Nabi: ‘Ulama’ dan Awliya’.


SEBUAH ILLUSTRASI

Untuk menunjukkan pentingnya interaksi ini sebagai asbab masuknya hikmah dan pemahaman akan agama Allah, kita coba menengok kembali kisah suhbat antara KH Hasyim Asy’ari dengan salah satu guru beliau, Syaikhuna Kholil Bangkalan. Konon, almarhum KH. Hasyim Asy'ari saat nyantri ke almarhum Kyai Kholil Bangkalan, malah tidak menerima pelajaran apa pun secara formal, Cuma disuruh untuk menggembalakan ternak milik Kyai Kholil. Namun, seperti kemudian kita pahami dari sejarah, betapa pribadi Hasyim Asy'ari yang terbentuk adalah pribadi yang luhur dan mumpuni, dan beliau inilah pendiri Pesantren Tebu Ireng Jombang dan pendiri Nahdlatul Ulama. Bahkan, sepulang beliau dari Hijaz, beliau dikenal sebagai ulama’ ahli hadits yang memiliki ijazah (izin) untuk mengajarkan Sahih Bukhari. Dan setiap bulan Ramadan, di pesantren Tebu Ireng dirian beliau, beliau mengadakan majelis Sahih Bukhari, yang dihadiri banyak santri, termasuk mantan guru beliau, Mbah Kholil Bangkalan. Berikut saya kutipkan dari [1]:

[Awal Kutipan]


Jombang l933. Terjadi dialog yang mengesankan antara dua ulama besar, KH Muhammad Hasyim Asy'ari dengan KH Mohammad Cholil, gurunya. "Dulu saya memang mengajar Tuan. Tapi hari ini, saya nyatakan bahwa saya adalah murid Tuan," kata Mbah Cholil, begitu kiai dari Madura ini populer dipanggil. Kiai Hasyim menjawab, "Sungguh saya tidak menduga kalau Tuan Guru akan mengucapkan kata-kata yang demikian. Tidakkah Tuan Guru salah raba berguru pada saya, seorang murid Tuan sendiri, murid Tuan Guru dulu, dan juga sekarang. Bahkan, akan tetap menjadi murid Tuan Guru selama-lamanya." Tanpa merasa tersanjung, Mbah Cholil tetap bersikeras dengan niatnya. "Keputusan dan kepastian hati kami sudah tetap, tiada dapat ditawar dan diubah lagi, bahwa kami akan turut belajar di sini, menampung ilmu-ilmu Tuan, dan berguru kepada Tuan," katanya. Karena sudah hafal dengan watak gurunya, Kiai Hasyim tidak bisa berbuat lain selain menerimanya sebagai santri.


Lucunya, ketika turun dari masjid usai shalat berjamaah, keduanya cepat-cepat menuju tempat sandal, bahkan kadang saling mendahului, karena hendak memasangkan ke kaki gurunya.

Sesungguhnya bisa saja terjadi seorang murid akhirnya lebih pintar ketimbang gurunya. Dan itu banyak terjadi. Namun yang ditunjukkan Kiai Hasyim juga Kiai Cholil; adalah kemuliaan akhlak. Keduanya menunjukkan kerendahan hati dan saling menghormati, dua hal yang sekarang semakin sulit ditemukan pada para murid dan guru-guru kita.

[Akhir kutipan]
Artinya, dalam Islam kita diajarkan untuk terjadinya proses pemindahan ilmu dan hikmah secara sempurna, selain praktik-praktik pemindahan ilmu secara lahiriah diperlukan pula adab. Adab ini a.l. berupa ketakziman sang santri atau murid pada kyai dan pada shaykhnya yang telah dimuliakan Allah Ta’ala dengan hikmah dan pemahaman agama. Kepada para guru/shaykh/kyai yang sholih dan taqwa ini, ketakziman murid bisa berbentuk "tabarruk" atau mengharapkan berkah, misal dengan mencium tangan sang kyai, dengan menggunakan barang-barang bekas digunakan oleh sang kyai, dll bentuk tabarruk. Dalam hal ini yang perlu dipahami adalah, bahwa kaum muslim yang melakukan "tabarruk" ini tetap paham dan yakin, bahwa sumber barokah adalah Allah 'Azza wa Jalla. Adapun tangan Shaykh, atau sisa makanan sang kyai, bekas air wudhu' kyai, sandal sang Guru, dll., adalah jalan/wasilah buat memperoleh barokah Allah. Barokah Allah ini bisa berupa mudahnya penyerapan ilmu, perbaikan akhlaq sang murid oleh Allah SWT, dll.

Esensi tabaruk sebenarnya adalah “cinta”. Ketika kita mencintai seseorang yang dicintai Allah, maka apa pun yang terkait dengan orang tersebut, kita pun mencintainya. Bukankah hal yang sama kita lakukan pula terhadap kekasih atau istri/suami yang kita cintai? Dan karena orang yang kita cintai tersebut, dalam hal ini Ulama’ atau Awliya’ adalah mereka yang dicintai dan mencintai Allah, mencintai mereka (dan atau apa pun yang terkait dengan mereka) insya Allah akan mengundang cinta Allah pada kita. Itulah esensinya.

Praktik "tabarruk" dan penghormatan ini sebetulnyalah sudah ada sejak zaman Rasulullah SAW bahkan sejak sebelum beliau SAW. Dan karena ulama yang taqwa adalah pewaris para Nabi (lihat tulisan bagian 1 yang lalu), adalah wajar kalau kemudian praktik tabarruk juga dilakukan pula pada orang-orang shalih ini. Sebagaimana Allah Ta’ala sendiri telah mengatakan (dalam QS 4:69 di atas) bahwa mereka (para Nabi, para shiddiqin, para syuhada’ dan salihin) adalah sebaik-baik teman, yang menjadi wasilah sampainya hidayah Allah, serta Hikmah bagi diri kita. Insya Allah.


PENUTUP BAGIAN 2

Untuk menutup bagian ke-2, serial tulisan Adab dan Tabarruk ini, saya hendak menyampaikan sebuah hadits yang diriwayatkan pada saya dari Syaikh Zakaria bin ‘Umar Bagharib di Singapore, dari salah seorang guru beliau di Singapore, al-Marhum al-Fadhil Shaykh ‘Umar ibn ‘Abdallah ibn Ahmad ibn Salim ibn ‘Abdallah ibn Abu Bakr al-Khatib at-Tarimi asy-Syafi’i [2], seorang faqih mazhab Syafi’i. Syaikh Zakaria Bagharib mengajarkan kepada saya hadits ini yang beliau dapat dari Al-Marhum Syaikh ‘Umar Al-Khatib menjelang wafatnya beliau di tahun 1997:

“Hudhuuruka aw Wuquufuka bayna yadayyi waliyyin hayyin aw mayyitin khayrul laka min an-taqtho’a fil ‘ibaadati irban irban”

“Kehadiranmu atau diam-mu di hadapan seorang Wali (literalnya: di antara tangan seorang Wali) baik wali itu masih hidup atau telah wafat, adalah lebih baik daripada dirimu beribadah nafilah sebanyak-banyaknya (literalnya: lebih baik daripada dirimu memotong dalam ibadah berkeping-keping)”

Hadits di atas menunjukkan sekali lagi, betapa pentingnya ummat ini dekat dan berinteraksi, serta bersahabat dengan para Kekasih Allah Ta’ala, para Ulama’ yang diakui ketaqwaannya serta memiliki isnad keilmuan dan hikmah yang bersambung hingga Rasulullah sallAllahu ‘alayhi wasallam, serta para Awliya’ Allah, kekasih-kekasih Allah.

Insya Allah, pada bagian berikutnya kita mencoba mengulas praktik-praktik tabarruk yang bahkan telah dilakukan sejak zaman Rasulullah sall-Allahu ‘alayhi wasallam oleh para sahabat kepada beliau sall-Allahu ‘alayhi wasallam.

PENGANTAR BAGIAN 3

Pada bagian pertama, telah dibahas pentingnya memberikan penghormatan pada mereka yang dimuliakan Allah Taála, dan kemudian di bagian kedua, telah pula diulas latar belakang dan hikmah perlunya adab penghormatan kepada mereka ini sebagai jalan/asbab anugerah Allah berupa hikmah, hidayah, dan taufiq.

Pada bagian ke-3 ini, insya Allah,kita akan mencoba mulai melihat praktik-praktik adab hormat pada ulama/awliya’serta praktik tabarruk, sebagai manifestasi hormat dan cinta pada mereka yang dicintai Allah SWT, serta sebagai sarana memohon pada Allah Ta’ala dengan kecintaan mereka pada-Nya, dan kecintaan-Nya pada mereka. Dan tentu saja, tak ada contoh yang lebih baik, yang lebih kuat, melainkan dari apa yang dipraktikkan para Sahabat radiyyAllahu ‘anhum dalam bertabarruk pada Nabi kita, Nabi Besar Muhammad sall-Allahu álayhi wasallam.

Sebagian besar contoh-contoh ini diambil dari hasil riset/studi guru kami, Mawlana Syaikh Muhammad Hisham Qabbani dan Syaikh G.F. Haddad.

TABARRUK PARA SAHABAT DENGAN RAMBUT DAN KUKU NABI

Para sahabat biasa berebut rambut Nabi sall-Allahu álayhi wasallam. Tidak hanya itu, bahkan mereka memakainya sebagai sarana penyembuhan. Bila ada orang yang sakit, mereka meminumkan air yang sebelumnya telah dialirkan ke bejana yang berisi beberapa helai rambut Nabi sallAllahu ‘alayhi wasallam. Di antara sahabat bahkan ada yang menginginkan rambut Nabi ditaruh bersama jenazah mereka saat mereka dikubur, serta ada pula yang menaruh rambut Nabi sallAllahu ‘alayhi wasallam di turban mereka, yang dengan barakah rambut ini, dengan izin Allah, mereka selalu memperoleh kemenangan di medan perang. Semua ini tidaklah mengurangi keyakinan mereka bahwa sumber utama kesembuhan ataupun kemenangan tentulah adalah Allah Ta’ala. Siapakah yang berani mengklaim memiliki iman yang lebih murni daripada para sahabat Nabi sallAllahu álayhi wasallam, sepeninggal Nabi? Tabarruk mereka didasari keimanan dan kecintaan mereka pada beliau sallAllahu ‘alayhi wasallam, yang mereka yakini sebagai sebaik-baik ciptaan, serta kekasih Allah Ta’la (habiibullah). Dan sebagian adalah seperti keseluruhannya. Bagi mereka melihat atau menyentuh anggota tubuh Nabi, adalah bagaikan melihat dan menyentuh Nabi sallAllahu ‘alayhi wasallam secara langsung. Maka, adakah Allah Ta’ala akan menolak doa dan hajat mereka yang mencintai Kekasih-Nya dengan menghormati dan mencintai bahkan anggota tubuh Kekasih-Nya yang telah wafat? Dengan keyakinan inilah, para sahabat bertabarruk dengan apa-apa yang terhubungkan kepada Nabi sall-Allahu álayhi wasallam sebagai wasilah doa mereka pada Allah Ta’ala. Mereka menggunakan apa pun yang mereka lihat terhubungkan dengan Nabi sallAllahu ‘alayhi wasallam, apatah itu anggota tubuhnya, apatah itu, keluarganya, ataupun tempat-tempat maupun benda yang pernah beliau sentuh, seperti akan kita lihat pada bagian-bagian berikutnya. Insya Allah.

1. Bukhari meriwayatkan dalam Shahihnya pada Kitab l-libas (bab pakaian) dalam pasal berjudul "Tentang rambut abu-abu", bahwasanya 'Usman ibn Abd Allah ibn Mawhab mengatakan: “Keluargaku mengirim diriku pergi ke Ummu Salama dengan secangkir air. Ummu Salama membawa keluar suatu botol perak yang berisi sehelai rambut Nabi SallAllahu ‘alayhi wasallam, dan biasanya jika seseorang memiliki penyakit mata atau kesehatannya terganggu, mereka mengirimkan secangkir air kepadanya (Ummu Salama) agar ia mengalirkan air itu lewat rambut tersebut (dan diminum). Kami biasa melihat ke botol perak itu dan berkata, ‘Aku melihat beberapa rambut kemerahan’”.

2. Anas berkata, "Ketika Rasulullah sallAllahu ‘alayhi wasallam mencukur kepalanya (setelah hajj), Abu Talha adalah orang pertama yang mengambil rambutnya" (Hadits Riwayat Bukhari).

3. Anas juga berkata: “Nabi sallAllahu ‘alayhi wasallam melempar batu di al-Jamra, kemudian ber-qurban, dan menyuruh seorang tukang cukur untuk mencukur rambut beliau di bagian kanan lebih dulu, lalu memberikan rambut tersebut pada orang-orang” (Hadits Riwayat Muslim).

Dia berkata: "Talha adalah orang yang membagi-bagikannya". (Hadits Riwayat Muslim, Tirmidhi, dan Abu Dawud).

Dia juga berkata: "Ketika Rasulullah sallAllahu ‘alayhi wasallam mencukur rambut kepalanya di Mina, beliau sallAllahu ‘alayhi wasallam memberikan rambut beliau dari sisi kanan kepalanya, dan bersabda: Anas! Bawa ini ke Ummu Sulaym (ibunya). Ketika para shahabat radiyallahu 'anhum ajma'in melihat apa yang Rasulullah sallAllahu ‘alayhi wasallam berikan pada kami, mereka berebut untuk mengambil rambut beliau sallAllahu ‘alayhi wasallam yang berasal dari sisi kiri kepala beliau sallAllahu ‘alayhi wasallam, dan setiap orang mendapat bagiannya masing-masing. (Hadits Riwayat Ahmad).

4. Ibn al-Sakan meriwayatkan lewat Safwan ibn Hubayra dari ayah Safwan: Tsabit al-Bunani berkata: Anas ibn Malik berkata kepadaku (di tempat tidurnya saat menjelang wafatnya): "Ini adalah sehelai rambut Rasulullah sallAllahu ‘alayhi wasallam. Aku ingin kau menempatkannya di bawah lidahku." Thabit melanjutkan: Aku menaruhnya di bawah lidahnya, dan dia (Anas) dikubur dengan rambut itu berada di bawah lidahnya."

5. Abu Bakr berkata: "Aku melihat Khalid ibn Walid meminta gombak (rambut bagian depan) Nabi sallAllahu ‘alayhi wasallam, dan dia menerimanya. Dia biasa menaruhnya di atas matanya, dan kemudian menciumnya." Diketahui bahwa kemudian dia menaruhnya di qalansuwa (tutup kepala yang dikelilingi turban) miliknya, dan selalu memenangkan perang. (riwayat Al-Waqidi di Maghazi dan Ibn Hajar di Isaba).

Ibn Abi Zayd al-Qayrawani meriwayatkan bahwa Imam Malik berkata: "Khalid ibn al-Walid memiliki sebuah qalansiyya yang berisi beberapa helai rambut Rasulullah sallAllahu ‘alayhi wasallam, dan itulah yang dipakainya pada perang Yarmuk.

6. Ibn Sirin (seorang tabi'in) berkata: "Sehelai rambut Nabi sallAllahu ‘alayhi wasallam yang kumiliki lebih berharga daripada perak dan emas dan apa pun yang ada di atas bumi maupun di dalam bumi." (riwayat Bukhari, Bayhaqi dalam Sunan Kubra, dan Ahmad)

7. Dalam Shahih Bukhari, vol 7, kitab 72, no. 784, Utsman bin Abd-Allah ibn Mawhab berkata, "Orang-orangku mengirim semangkuk air ke Umm Salama." Isra'il memberikan ukuran tiga jari yang menunjukkan kecilnya ukuran wadah yg berisi beberapa helai rambut Nabi sallAllahu ‘alayhi wasallam. Utsman menambahkan, "Jika seseorang sakit karena suatu penyakit mata atau penyakit lainnya, dia akan mengirimkan suatu wadah berisi air ke Umm Salama (dan dia akan mencelupkan rambut Nabi ke dalamnya dan air tersebut akan diminum). Aku melihat ke wadah (yang berisi rambut Nabi) dan melihat beberapa helai rambut kemerahan di dalamnya."

Hafiz Ibn Hajar dalam Fath al-Bari, Vol. 10, hlm, 353, mengatakan: "Mereka biasa menyebut botol perak tempat menyimpan rambut Nabi itu sebagai jiljalan dan botol itu disimpan di rumah Umm Salama."

Hafiz al-'Ayni berkata dalam 'Umdat al-Qari, Vol. 18, hlm. 79: "Umm Salama memiliki beberapa helai rambut Nabi dalam sebuah botol perak. Jika orang jatuh sakit, mereka akan pergi dan mendapat barokah lewat rambut-rambut itu dan mereka akan sembuh dengan sarana barokah itu. Jika seseorang terkena penyakit mata atau penyakit apa saja, dia akan mengirim istrinya ke Umm Salama dengan sebuah mikhdaba atau ember air, dan dia (Umm Salama) akan mencelupkan rambut itu ke dalam air, dan orang yang sakit itu meminum air tersebut dan dia akan sembuh, setelah itu mereka mengembalikan rambut tsb ke dalam jiljal."

8. Imam Ahmad meriwayatkan dalam Musnadnya (4:42) dari Abd Allah ibn Zayd ibn 'Abd Rabbih dengan sanad yang shahih seperti yang dinyatakan oleh Haythami dlm Majma' al-Zawaid, bahwa Nabi sallAllahu ‘alayhi wasallam memotong kukunya dan membagikannya ke orang-orang.


TABARRUK PARA SAHABAT DENGAN KERINGAT RASULULLAH SALLALLAHU ‘ALAYHI WASALLAM

1. Anas berkata: "Nabi sallAllahu ‘alayhi wasallam tinggal bersama kami, dan begitu beliau tidur, ibuku mulai mengumpulkan keringatnya dalam suatu bejana. Nabi sallAllahu ‘alayhi wasallam terbangun dan bertanya, "Wahai Umm Sulaym, apa yang kau lakukan?" Dia (Umm Sulaym) menjawab, "Ini adalah keringatmu yang akan kami campur dalam parfum kami dan itu adalah parfum terbaik." (Hadits Riwayat Muslim, Ahmad).

Ketika Anas terbaring menjelang wafatnya dia menyuruh agar sebagian dari bejana itu digunakan saat upacara sebelum penguburannya, dan memang dipakai seperti yang ia suruh. (Hadits Riwayat Bukhari)

Ibn Sirin juga diberikan sebagian dari bejana milik Umm Sulaym. (Hadits riwayat Ibn Sa'd)


TABARRUK PARA SAHABAT DENGAN SALIVA (AIR LUDAH) NABI DAN AIR WUDHU’ BELIAU

Hadits-hadits yang menjelaskan tentang ini amatlah banyak. Antara lain dapat dilihat di karya Syaikhul Muhadditsiin Imam Ibn Hajar al-Asqalany, Fath al-Bari 1989 ed. 10:255-256.

1. Dalam Bukhari dan Muslim: Para shahabat berebut mendapatkan sisa air wudhu' Nabi sallAllahu ‘alayhi wasallam untuk digunakan membasuh muka mereka.

Imam Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim berkata: "riwayat-riwayat ini merupakan bukti/hujjah untuk mencari barokah dari bekas-bekas para wali" (fihi al-tabarruk bi atsar al-salihin).

2. Nabi sallAllahu ‘alayhi wasallam biasa menggunakan saliva-nya untuk menyembuhkan penyakit, saliva beliau dicampur dengan sedikit tanah, dan diikuti kata-kata:

"Bismillah, tanah dari bumi kita ditambah dengan air liur dari orang-orang yaqin di antara kita akan menyembuhkan penyakit kita dengan izin Tuhan." (Hadits Riwayat Bukhari dan Muslim).

3. Nabi sallAllahu ‘alayhi wasallam pernah menyuruh setiap orang di Madina kemudian Makkah untuk membawa bayi-bayi mereka yang baru lahir, kepada siapa beliau sallAllahu ‘alayhi wasallam membacakan doa dan memasukkan campuran nafas dan ludah (nafs wa tifl) beliau ke dalam mulut bayi-bayi itu. Beliau kemudian memerintahkan pada ibu-ibu mereka untuk tidak menyusui sampai malam.

[Hadits riwayat Bukhari, Abu Dawud, Ahmad, Bayhaqi dalam Dala'il Nubuwwah, Waqidi, dll].
Nama-nama lebih dari 100 orang Ansar dan Muhajirin yang menerima barokah khusus ini diketahui lengkap dengan isnadnya.


PENUTUP BAGIAN 3

Alhamdulillah wa syukur lillah, pada bagian ini, telah mulai dipaparkan beberapa praktik tabarruk para Sahabat menggunakan bagian tubuh atau pun apa yang keluar dari tubuh suci Nabi sallAllahu ‘alayhi wasallam. Insya Allah pada bagian 4, akan kita lanjutkan praktik-praktik tabarruk para sahabat dengan tubuh Nabi ini, antara lain tabarruk mereka dengan tangan dan kaki suci beliau sallAllahu ‘alayhi wasallam, serta tabarruk mereka dengan kulit suci Nabi sallAllahu ‘alayhi wasallam.


PENGANTAR BAGIAN 4

Di bagian ke-3 telah kita bahas, bagaimana para sahabat bertabarruk dengan rambut Nabi sallAllahu ‘alayhi wasallam, dengan kuku Nabi sallAllahu ‘alayhi wasallam, dengan keringat beliau sallAllahu ‘alayhi wasallam, dan dengan air ludah serta air bekas wudhu’ beliau sallAllahu ‘alayhi wasallam. Masih terkait dengan bagian ke-3, pada tulisan bagian ke-4 tentang adab hormat dan tabarruk ini, kita akan melihat bagaimana rasa hormat dan cinta para sahabat ditunjukkan pula dengan mencium tangan, dan kaki Nabi Muhammad sallAllahu ‘alayhi wasallam, serta kulit badan beliau sallAllahu ‘alayhi wasallam. Hal inilah yang selama lebih dari 1400 tahun ini, banyak diteladani oleh segenap ummat Islam Ahlussunnah wal Jama’ah, khususnya bagi para murid/santri dalam menuntut ilmu dan hikmah pada para guru/ulama/syaikh-mereka.

Tentu saja, di samping sebagai perwujudan adab hormat, dan kecintaan para sahabat ini kepada guru mereka, Rasulullah sallAllahu ‘alayhi wasallam, sikap seperti yang akan kita lihat dari banyak hadits di bawah, juga sebagai tabarruk, mengharapkan aliran barakah Allah lewat kekasih-Nya, sayyidina wa Mawlana Muhammad sallAllahu ‘alayhi wasallam. Hal ini nampak jelas, misalnya dari hadits nomor 1 di bawah: “…..terbiasa untuk menjumput tangan Nabi dan berebut UNTUK MERAIH KEPERLUAN MEREKA DENGANNYA." Atau dari hadits nomor 2 dari Sayyidah ‘Aisyah r.a.: “…dan menyapu beliau dengan tangan kanan beliau MENGHARAPKAN BAROKAH LEWATNYA.”

Sekali lagi, semua ini didasari keyakinan para sahabat radiyallahu ‘anhum ajma’in, bahwa beliau sallAllahu ‘alayhi wasallam adalah Kekasih Allah, serta penghulu segala ciptaan, yang dengan menunjukkan kecintaan mereka pada beliau, insya Allah, rahmat dan barakah Allah pun akan tercurah bagi diri mereka. Keyakinan yang sama pula dengan yang dimiliki ummat Islam terhadap para Kyai/Ulama/Awliya’, bahwa mereka (para Ulama’ dan Awliya’) adalah pewaris pada Nabi, pewaris ilmu dan akhlaq Nabi, sekaligus pewaris cinta dan kecintaan Allah, yang dengan menunjukkan kecintaan pada mereka ini, insya Allah menjadi jalan/asbab tercurahnya Rahmat Allah Ta’ala.

Untuk menyingkat ruang, marilah langsung kita perhatikan satu persatu contoh adab dan tabarruk para Sahabat terhadap Nabi Muhammad sallAllahu ‘alayhi wasallam dengan tangan, kaki, serta kulit beliau.


TABARRUK PARA SAHABAT DENGAN TANGAN DAN KAKI SUCI NABI SALLALLAHU 'ALAYHI WASALLAM

1. Hadits pertama Imam Ahmad yang diriwayatkan dari Anas ibn Malik dalam Musnadnya adalah: "Seluruh masyarakat Madina terbiasa untuk menjumput tangan Nabi dan berebut untuk meraih keperluan mereka dengannya."

2. Diriwayatkan dari 'Aisyah Ummul Mukminin, "Rasulullah sallAllahu ‘alayhi wasallam, ketika sedang mengeluh, membaca tiga surat terakhir dari Quran, atas dirinya sendiri dan meniupkannya." 'Aisyah berkata pula, "Ketika sakitnya menghebat, aku membacakannya atas beliau dan menyapu beliau dengan tangan kanan beliau mengharapkan barokah lewatnya."

3. Usama ibn Syarik meriwayatkan, "Aku datang untuk melihat Rasulullah sallAllahu ‘alayhi wasallam ketika para sahabat sedang bersama beliau, dan mereka seperti terdiam, seolah-olah ada burung yang berada di kepala mereka. Aku memberi salam, dan duduk. (Kemudian seorang Badui datang dan bertanya yang dijawab oleh Nabi)... Nabi sallAllahu ‘alayhi wasallam kemudian berdiri dan orang-orang pun berdiri. Mereka mulai menciumi tangan beliau, dan aku mengambil tangan beliau dan menaruhnya di wajahku. Aku merasakannya lebih harum dari misik dan lebih sejuk dari air segar."

[Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Dawud #3855, Tirmidzi #2038 - hasan shahih, Ibn Majah (3436), al-Hakim (4:399), dan Amad (4:278). Al-Hafiz Imam Bayhaqi merefernya dalam cabang ke-15 dalam kitabnya Syu'ab al-Iman (cabang-cabang Iman), berjudul "Cabang ke-15 dari iman, menghormati Nabi, mengakui ketinggian kedudukannya, dan menghormatinya" (al-khamis 'ashar min syu'ab al-iman wa huwa babun fi ta'zim an-nabi sallAllahu ‘alayhi wasallam wa ijlalihi wa tawqirihi) vol. 2 halaman 200 (#1528).]

4. Ibn 'Umar menceritakan suatu cerita dan berkata, "Kami kemudian datang mendekati Nabi dan mencium tangan beliau.".

[Hadits diriwayatkan oleh Ibn Majah di Sunannya, Kitab Adab, bab tentang mencium tangan orang lain; dalam Sunan Abu Dawud, Kitab Adab, bab mencium tangan dan dalam Musannaf Ibn Abi Shayba dengan dua sanad yang berbeda.]

5. Umm Aban. putri al-Wazi' ibn Zari' meriwayatkan bahwa kakeknya Zari' al-'Abdi, yang adalah anggota utusan 'Abd al-Qays, berkata: "Ketika kami datang ke Madinah, kami berlomba untuk menjadi yang pertama meraih dan mencium tangan dan kaki Nabi Allah ... (hingga akhir hadits)"

[Hadits riwayat Abu Dawud, 41: 5206. Bukhari meriwayatkan dari Umm Aban hadits serupa dalam kitabnya Adab al-Mufrad: Kami berjalan dan seseorang berkata, Rasulullah hadir", hingga kami meraih tangan beliau dan kaki beliau dan menciumnya.]

6. Burayda meriwayatkan bahwa seorang Arab Badui datang kepada Nabi sallAllahu ‘alayhi wasallam, dan bertanya, "Wahai Utusan Allah, berikan izin kepadaku untuk mencium kepalamu dan kedua tanganmu," dan ia memperoleh izin itu. Dalam versi lain, dia meminta izin untuk mencium kepala dan kaki.

[Hadits diriwayatkan oleh al-Ghazali dalam Ihya'nya dan versi yang menyebut kaki dalam Mustadrak Imam al-Hakim dan di Ibn Muqri. Baik Hakim maupun al-'Iraqi menyatakan bahwa rantai hadits yang kedua shahih.]

7. Dari Safwan ibn 'Asal al-Muradi: "Seorang dari dua orang Yahudi berkata ke temannya. "Bawa kami ke nabi ini hingga kami dapat menanyainya tentang sepuluh tanda Musa"... (Nabi sallAllahu ‘alayhi wasallam menjawab dengan lengkap) kemudian mereka mencium tangan dan kaki beliau dan berkata "Kami bersaksi bahwa engkau adalah seorang nabi..."

[Hadits diriwayatkan oleh Ibn Abi Shayba di Kitab Adab bab seorang pria yang mencium tangan pria lain saat menyalaminya, dan oleh Tirmidzi di kitab Adab dan ia menyatakannya hasan shahih, juga oleh Nasa'i, Ibn Maja dalam Kitab Adab, dan Al-Hakim menyatakannya shahih].

8. "Ketika kami bersama Rasulullah sallAllahu ‘alayhi wasallam dalam suatu ekspedisi, seorang Badui datang dan meminta mukjizat. Rasulullah sallAllahu ‘alayhi wasallam yang mulia menunjuk ke sebuah pohon dan berkata ke Badui itu: "Katakan ke pohon itu bahwa utusan Allah memanggilmu". Pohon itu bergoyang dan mencabut dirinya sendiri, dan datang ke hadapan Utusan Allah sallAllahu ‘alayhi wasallam yang mulia, duduk, dan berkata, "Keselamatan bagimu wahai utusan Allah!" Kemudian Badui itu berkata, "Sekarang biarkan ia kembali ke tempatnya!" Ketika Rasulullah memerintahkan, pohon itu kembali ke tempatnya. Badui itu berkata, "Izinkan aku memujamu!" Rasulullah sallAllahu ‘alayhi wasallam menjawab, "Tak seorangpun boleh melakukan hal itu (haram)." Badui itu lalu berkata, "Kalau begitu aku akan MENCIUM TANGAN DAN KAKIMU." Beliau sallAllahu ‘alayhi wasallam MENGIZINKANNYA (jaa'iz). (dari al-Qadi 'Iyad di kitab ash-Shifa', 1:299, dan al-Bazzaar dalam Musnad, 3:49).


TABARRUK PARA SAHABAT DENGAN KULIT RASULULLAH YANG TERBERKATI

1. Diriwayatkan oleh Usayd ibn Hudayr: Abdurrahman ibn Abu Layla, mengutip Usayd ibn Hudayr al-Anshori, berkata bahwa ketika ia tengah berolok-olok dan bercakap-cakap dengan orang-orang hingga membuat mereka tertawa, Nabi menyodoknya di rusuknya dengan sebuah tongkat. Ia (Usayd) berkata, "Izinkan aku membalas." Beliau sallAllahu ‘alayhi wasallam bersabda,"Lakukan pembalasan." Ia berkata, "Engkau memakai baju sedangkan aku tidak." Nabi kemudian mengangkat bajunya, dan orang itu memeluk beliau dan mulai mencium sisi badan beliau sallAllahu ‘alayhi wasallam." Ia berkata: "Inilah yang aku inginkan, wahai utusan Allah!".

[Hadits riwayat Abu Dawud kitab 41, no. 5205].

2. Ibn 'Abd al-Barr meriwayatkan dalam Isti'ab fi Ma'rifat al-ashab bahwa Nabi sallAllahu ‘alayhi wasallam, setelah melarang dua atau tiga kali penggunaan khaluq (sejenis perfum yang dicampur dengan saffron), dan melihat Sawad ibn 'Amr al-Qari al-Ansari memakainya, mendorongnya di bagian tengah dengan sebuah jarida (batang pohon palem) dan ia (Sawad) tergores. Sawad meminta pembalasan; ketika Nabi membuka pinggangnya, ia (Sawad) melompat dan mencium pinggang Nabi.

Versi Ibn Ishaq di Sira, menyebutkan, bahwa Sawad berada dalam barisan menuju Badr saat terjadinya kejadian ini. Nabi sallAllahu ‘alayhi wasallam mengatur barisan dengan tongkatnya (miqra'a) dan beliau mendorong pinggang Sawad dengannya, melukainya secara tidak sengaja, dengan kata-kata: "Luruskan dirimu dengan yang lain". Sawad berkata, "Ya Rasulullah, engkau melukaiku, izinkan aku membalasmu." Nabi sallAllahu ‘alayhi wasallam memberinya tongkat itu dan berkata, "Ambillah pembalasan." Sawad mendekatinya dan mencium beliau di pinggangnya. Nabi berkata, "Apa yang membuatmu berbuat demikian, wahai Sawad?" Ia menjawab. "Wahai Rasulullah, waktunya telah datang untuk apa yang kau lihat, aku menginginkan perbuatan terakhirku di dunya ini adalah untuk menyentuhmu."

3. Buhaysah al-Fazariyyah meriwayatkan: "Ayahku meminta izin dari Nabi sallAllahu ‘alayhi wasallam. Kemudian beliau datang mendekatinya dan mengangkat bajunya, dan mulai mencium beliau dan memeluknya karena mencintainya... "

[Hadits riwayat Abu Dawud, Kitab 9, no. 1665].


PENUTUP BAGIAN KE-4

Alhamdulillah wa Syukurlillah, pada bagian ke-3 dan ke-4 ini, telah kita selesaikan mengulas contoh-contoh serta teladan adab hormat dan tabarruk para Sahabat terhadap Nabi kita, Nabi Besar Muhammad sallAllahu ‘alayhi wasallam, melalui anggota tubuh suci beliau maupun apa-apa yang keluar/melalui tubuh suci beliau sallAllahu ‘alayhi wasallam. Insya Allah pada bagian berikutnya dari serial tulisan ini, kita akan melihat bagaimana para Sahabat beradab hormat dan bertabarruk dengan benda-benda kepunyaan Rasulullah sallAllahu ‘alayhi wasallam.


PENGANTAR BAGIAN 5

Setelah pada bagian sebelumnya, kita melihat bagaimana para sahabat bertabarruk dengan tubuh, maupun anggota badan Rasulullah sallAllahu ‘alayhi wasallam, pada bagian ini, dan juga insya Allah pada bagian berikutnya, kita akan melihat teladan para sahabat dalam menghormati, mencintai dan bertabarruk pada beliau sallAllahu ‘alayhi wasallam melalui barang-barang yang dimiliki oleh Nabi sallAllahu ‘alayhi wasallam. Barang-barang ini antara lain misalnya, gelas/cangkir milik Nabi, Jubbah Nabi, baju Nabi, Mimbar Nabi, tongkat Nabi, bahkan hingga sandal/sepatu milik Nabi sallAllahu ‘alayhi wasallam. Tak heran, kalau kemudian kita membaca kisah tabarruk antara Hadratus Syaikh Kyai Haji Hasyim Asy’ari dan guru beliau Syaikhuna Kholil Bangkalan, ketika berlomba memasangkan sepatu kepada yang dianggap sebagai gurunya (lihat tulisan ini bagian ke-2). Rupanya, praktik adab atau tabarruk seperti ini memiliki presedennya sejak zaman Nabi. Demikian pula sering kita jumpai di dunia pesantren atau zawiyyah milik seorang ‘Aalim/Waliyyullah, bagaimana para santri dan murid saling berebut untuk bisa menghabiskan kopi atau teh dari cangkir miliki gurunya. Lagi-lagi, ini bukanlah hal yang baru, melainkan diteladani dari praktik para sahabat dalam bertabarruk pada guru mereka, Rasulullah sallAllahu ‘alayhi wasallam.

Baiklah, untuk menyingkat waktu membaca para pembaca yang budiman, kita langsung teliti satu persatu praktik tabarruk para sahabat lewat barang-barang milik Nabi sallAllahu ‘alayhi wasallam.

TABARRUK PARA SAHABAT DENGAN CANGKIR NABI

1. Hajjaj ibn Hassan berkata: "Kami berada di rumah Anas dan dia membawa cangkir Nabi sallAllahu ‘alayhi wasallam dari suatu kantong hitam. Dia (Anas) menyuruh agar cangkir itu diisi air dan kami minum air dari situ dan menuangkan sedikit ke atas kepala kami dan juga ke muka kami dan mengirimkan solawat kepada Nabi sallAllahu ‘alayhi wasallam."

[Hadits riwayat Ahmad, dan Ibn Katsir].
2. 'Asim berkata: "Aku melihat cangkir itu dan aku minum pula darinya."

[Hadits Riwayat Bukhari]

TABARRUK PARA SAHABAT DENGAN MIMBAR NABI

1. Ibn 'Umar radiyAllahu ‘anhu sering memegang tempat duduk Nabi sallAllahu ‘alayhi wasallam di mimbar dan menempelkan wajahnya untuk barokah.

[al-Mughni 3:559; al-Shifa' 2:54, Ibn Sa'd, Tabaqat 1:13; Mawsu'at Fiqh 'Abdullah ibn 'Umar halaman. 52]
2. Dari Abu Hurairah, Jabir, Abu Imama, dan Malik: Nabi sallAllahu ‘alayhi wasallam membuat hukum sunnah untuk bersumpah akan kebenaran di atas mimbarnya.

[Riwayat Nisa'i, Ahmad, Abu Dawud, Ibn Majah, dll, dikonfirmasikan oleh Bukhari].
Ibn Hajar berkomentar tentang hadits ini: dan di Makkah, orang bersumpah di antara Yamani dan Maqam Ibrahim [lihat Fath al-Bari, kitab komentar Sahih Bukhari, oleh Imam Ibn Hajar Al-Asqalaniy].


TABARRUK PARA SAHABAT DENGAN UANG YANG DIBERIKAN OLEH RASULULLAH

1. Jabir menjual seekor unta ke Nabi sallAllahu ‘alayhi wasallam dan beliau sallAllahu ‘alayhi wasallam memerintahkan Bilal untuk menambahkan seqirat (1/12 dirham) atas harga yang disepakati. Jabir berkata: "Tambahan yang diberikan Nabi sallAllahu ‘alayhi wasallam tidak akan pernah meninggalkanku," dan dia menyimpannya setelah peristiwa itu.

[Hadits riwayat Bukhari].

TABARRUK PARA SAHABAT DENGAN TONGKAT MILIK RASULULLAH

1. Ketika 'Abdullah bin Anis kembali dari suatu peperangan setelah membunuh Khalid ibn Sufyan ibn Nabih, Rasulullah sallAllahu ‘alayhi wasallam memberi hadiah kepadanya berupa sebuah tongkat dan bersabda kepadanya: "Itu akan menjadi tanda di antara kau dan aku di hari kebangkitan." Setelah itu, 'Abdullah ibn Anis tidak pernah berpisah dari tongkat itu dan tongkat itu dikubur dengannya setelah wafatnya.

[Hadits riwayat Ahmad 3:496, al-Waqidi 2:533].
2. Qadi 'Iyad meriwayatkan dalanm bukunya asy-Syifa', dalam bab berjudul "Penghargaan pada barang dan tempat yang terkait dengan Nabi", bahwa setelah Jihjah al-Ghiffari mengambil tongkat Nabi dari tangan Utsman dan mencoba mematahkannya dengan lututnya, terjadi infeksi pada lututnya yang menyebabkan harus diamputasi, dan dia mati sebelum akhir tahun itu.


TABARRUK PARA SAHABAT DENGAN BAJU RASULULLAH

1. Jabir berkata: "Nabi sallAllahu ‘alayhi wasallam datang setelah 'Abdullah bin Ubay dikuburkan dalam makamnya. Beliau sallAllahu ‘alayhi wasallam memerintahkan agar mayatnya diangkat lagi. Beliau sallAllahu ‘alayhi wasallam menaruh kedua tangannya pada kedua lutut 'Abdullah, bernafas atasnya dan mencampurnya dengan air liurnya serta mengenakan pakaian beliau padanya."

[Hadits riwayat Bukhari dan Muslim]

TABARRUK PARA SAHABAT DENGAN JUBAH RASULULLAH

1. Imam Muslim meriwayatkan bahwa 'Abd Allah, budak yang telah dibebaskan dari Asma' binti Abu Bakr, paman (pihak ibu) dari anaknya si 'Atha' (ibn 'Atha'), berkata: "Asma' mengutus ku ke Abdullah ibn 'Umar untuk mengatakan. "Menurut berita yang sampai kepadaku bahwa kau melarang tiga hal: jubah yang bergaris-garis, kain sadel yang terbuat dari sutra merah, dan berpuasa penuh di bulan Rajab." Abdullah berkata kepadaku. "Tentang apa yang kau katakan tentang puasa di bulan Rajab, bagaimana dengan orang yang berpuasa kontinyu? Dan tentang kain bergaris, aku pernah mendengar 'Umar bin Khattab berkata bahwa dia mendengar Rasulullah sallAllahu ‘alayhi wasallam bersabda "Dia yang mengenakan pakaian sutra tidak memiliki bagian baginya di hari akhir." dan aku takut garis-garis termasuk dalam larangan itu. Adapun tentang kain saddle merah, ini adalah kain sadel Abdullah dan warnanya merah." Aku ('Abd Allah) kembali ke Asma' dan memberitahunya tentang jawaban Ibn Umar, lalu dia berkata: "Ini adalah jubah Rasulullah, " dan dia membawaku ke jubah yang terbuat dari kain Persia dengan kain leher dari kain brokat, dan lengannya juga dibordir dengan kain brokat, dan berkata "Ini adalah jubah Rasulullah sallAllahu ‘alayhi wasallam yang disimpan 'Aisyah hingga wafatnya lalu aku menyimpannya. Nabi Allah sallAllahu ‘alayhi wasallam biasa memakainya, dan kami mencucinya untuk orang yang sakit hingga mereka dapat sembuh karenanya."

[Imam Muslim meriwayatkannya dalam bab pertama di kitab pakaian, Bab al-Libaas].

Imam Nawawi mengomentari hadits ini dalam Syarah Sahih Muslim, karya beliau, juz 37 bab 2, "Hadits ini adalah bukti dianjurkannya mencari barokah lewat bekas dari orang-orang shalih dan pakaian mereka (wa fii hadza al-hadits dalil 'ala istihbab al-tabarruk bi aatsaar al-shalihin wa tsiyaabihim).



PENUTUP BAGIAN KE-5

Alhamdulillah wa Syukurlillah, pada bagian ke-5 ini, telah kita saksikan bagaimana para Sahabat bertabarruk kepada Rasulullah Muhammad sallAllahu ‘alayhi wasallam, melalui benda-benda kepunyaan Rasulullah sallAllahu ‘alayhi wasallam. Di antara benda-benda milik beliau, sebenarnya ada satu yang memiliki tempat begitu istimewa di kalangan ummat Islam, khususnya para Ulama’ dan Awliya’-nya. Milik beliau yang satu ini tak lain tak bukan adalah Sandal beliau termasuk jejak tapak kaki beliau sallAllahu ‘alayhi wasallam. Insya Allah, dalam serial tulisan bagian berikutnya kita akan melihat bagaimana sikap hormat bercampur cinta para Ulama’ dan Awliya’ dalam bertabarruk dengan sandal Nabi sallAllahu ‘alayhi wasallam.


PENGANTAR BAGIAN 6

Setelah di bagian ke-5 serial tulisan ini, kita mulai melihat bagaimana para sahabat juga bertabarruk tidak hanya secara langsung dengan tubuh atau anggota tubuh Nabi sallAllahu ‘alayhi wasallam, tetapi juga dengan barang-barang yang terkait dengan beliau sallAllahu ‘alayhi wasallam, seperti dengan tongkat, atau jubah milik beliau. Nah, di antara barang-barang pribadi milik Rasulullah sallAllahu ‘alayhi wasallam ini ada satu yang memiliki tempat cukup istimewa di kalangan ummat Islam, khususnya para Ulama’ dan Awliya’-nya. Barang tersebut adalah sandal Nabi, berikut jejak tapak kaki sayyidina Muhammad sallAllahu ‘alayhi wasallam. Pada bagian ke-6 serial tulisan Tabarruk ini, insya Allah, akan kita saksikan dan renungkan bersama, bagaimana kecintaan para Sahabat, kecintaan para Ulama’ dan Awliya’ pada Rasulullah sallAllahu ‘alayhi wasallam, bahkan hingga sandal beliau pun, mereka tempatkan pada posisi terhormat dalam hati dan jiwa mereka.

SANDAL NABI DAN LUKISAN SANDAL DAN TAPAK NABI


Dalam kitab karya Imam Abul ‘Abbas Ahmad al-Muqri’ at-Tilmisaniy, yang berjudul Fath al-muta'al fi madh al-ni'al (Pembukaan untuk pujian yang paling tinggi atas sandal Nabi) disebutkan bahwa sandal Nabi sallAllahu ‘alayhi wasallam, atau yang dalam bahasa Arabnya dikenal sebagai an-Na’lu an-Nabiyyah, biasa dijadikan sarana tabarruk untuk memperoleh kebahagiaan, kedamaian, dan ketenangan. Dan di sini, maksudnya tentu saja bukan hanya sandal asli beliau yang jumlahnya hanya sepasang, tetapi citra atau lukisan dari sandal Nabi sallAllahu ‘alayhi wasallam. Dalam kitab tersebut, disebutkan pula bahwa pada saat stress atau kesedihan, seseorang dapat menempatkan citra/lukisan sandal Nabi tersebut di qalbu dan mata mereka untuk tabarruk. Citra/lukisan sandal Nabi dapat pula digunakan sebagai sarana tabarruk untuk menyembuhkan penyakit, sebagai pelega di saat kesempitan dan amarah, penyembuh bagi wanita hamil di saat melahirkan, perlindungan terhadap ‘mata jahat’, dan sebagai simbol keamanan dan perlindungan bagi kapal di lautan, perlindungan harta milik dari kehilangan, rumah dari bahaya kebakaran, juga bagi karavan dari bahaya serangan perampok. Orang-orang biasa menggunakan citra/lukisan Sandal Nabi sallAllahu ‘alayhi wasallam untuk alasan-alasan tersebut, dan juga sebagai sarana memperoleh barakah tiada terkira baik di dunia ini maupun di akhirat.


Di antara para Ahli Hadits yang turut menggambar dan melukis Sandal Nabi yang barakah ini, serta yang sepakat pula akan barakahnya yang luar biasa, antara lain adalah Ibn Asakir dan muridnya Badr Fariqi, Hafizh Zaynu d-Din al-Iraqi dan putranya, Imam Sakhawi dan Imam Suyuthi. Dan lazim pula diketahui bahwa para ulama Maroko berikut ini paling mahir dalam menggambarkan citra atau Mitsal/Naqsh dari Sandal Nabi, karena mereka tidak memiliki sandal Nabi yang asli: Ibn Marzuwa, Ab Bakr ibn al-Arabi, Hafiz Abu ar-Rabii’ah, Hafizh Abu Abdullah ibn al-Ibar, Ibn Rashedd al-Fahri, Ibn Jabir ‘Aashi, Ibn al-Bara at-Tuwsi, Abu Ishaq al-Undulusi. ‘Aalim Ibn Asakir mengambil gambarnya dari Ibn al-Haaj ‘aalim Maroko, dan keseluruhan ulama hadits setelah itu, mengambil gambarnya dari beliau (Ibn Asakir).

Suku dari Ibn al-Hadid menyimpan kedua Sandal Nabi, dan kemudian Sandal ini disimpan di Jami’ah Al-Ashrafiyyah, Damaskus. Pengembara dari Maroko, seperti Ibn al-Rasyiid datang ke Damaskus, dan mengambar pola/citra dari sepasang Sandal tersebut untuk dibawa pulang ke daerah tempat asalnya, bagi rekan-rekan senegerinya.

Para Ulama atau Awliya’ ini bertabarruk dengan sandal Nabi sallAllahu ‘alayhi wasallam karena kecintaan serta rasa hormat mereka yang demikian dalam pada Nabi sallAllahu ‘alayhi wasallam, hingga merasa diri mereka lebih rendah daripada debu yang melekat di sandal beliau sallAllahu ‘alayhi wasallam. Sandal tersebut seolah-olah memberikan ilham pada diri mereka betapa tinggi kedudukan beliau sallAllahu ‘alayhi wasallam di sisi Allah. Karena sebab-sebab inilah, mereka demikian teliti dalam mencatat lukisan dan citra sandal tersebut, dan terkadang mereka menempatkannya di turban mereka, untuk merasakan kepasrahan dan pelayanan penuh pada keagungan sang Rasul Allah yang mulia, sallAllahu ‘alayhi wasallam. Mereka juga menggantungkan lukisan Sandal tersebut di rumah-rumah mereka, untuk mencari barakah (tabarruk) daripadanya.

Tak heran, karena sebab-sebab itu pula, para penulis dan penyair dunia Islam memuji Sandal mulia ini, dan melukiskan perasaan cinta tak terhingga mereka bagi Sang Pemakainya, sallAllahu ‘alayhi wasallam. Imam Abu al-‘Abbas Ahmad al-Muqri’ mengumpulkan tulisan-tulisan ini dalam kitabnya yang disebut di atas, juga dalam karyanya yang lain, Azhar al-Riyad.


TENTANG JAM’IYYAH DAR AL-HADITS AL-ASRAFIYYAH DAMASKUS
[dikutip dari tulisan Syaikh G.F. Haddad]

Imam Muhyiddin An-Nawawi rahimahullah, memimpin Dar Al-Hadits al-Asyrafiyyah di Damaskus sepeninggal guru beliau, Abu Syaama di tahun 665 H. Dan beliau memegang kepemimpinan ini selama 11 tahun hingga wafatnya, tanpa menerima gaji apa pun.

Ibn as-Subki melaporkan dalam karya besarnya, Tabaqaat asy-Syafi’iyyah al-Kubra bahwa setelah ayahandanya, sang Imam besar, Faqih, dan Muhaddits (Ahli Hadits), Qadi al-Qudaat, Syaikhul Islam, ‘Ali ibn ‘Abd al-Kaafii Abu al-Hasan Taqiy ud-Din as-Subki (wafat 756 H) menjadi kepala Dar al-Hadits Al-Asyrafiyya di tahun 742 H, beliau biasa keluar rumah dan pergi ke masjid di larut malam untuk salat tahajjud, dan beliau biasa menangis serta menggosokkan wajah dan kepala beliau di sajadah (karpet salat) tempat Imam an-Nawawi biasa duduk, sambil membaca:

Wafī Dāri al-hadīthi lathīfu ma’nan
‘alā busut.in lahā asbū wa āwī:
‘Asā annī amassu bihurri wajhī
makānan massahu qadamu al-Nawāwī

Dan dalam Dar al-Hadits terdapat suatu makna halus
Di atas karpet di mana aku duduk dan berlindung:
Mungkin aku akan menyentuh dengan wajahku
Suatu tempat yang disentuh oleh kaki an-Nawawi

Di zaman, an-Nawawi, Dar al-Hadits memiliki koleksi asli Sandal Mulia Nabi sallAllahu ‘alayhi wasallam. Sandal ini disimpan di dalam sebuah kotak kayu di atas Mihrab masjid di Dar al-Hadits. Faqih Mazhab Maliki, Muhaddits, Sejarah, dan Ahli Bahasa, Imam Abu Hafs al-Fakihani (wafat 734 H) mengunjungi Damaskus untuk mencari barakah sandal ini. Sang Muhaddits Jamal ad-Din ibn Hadidah al-Ansari meriwayatkan: “Saat itu aku bersama beliau (Imam Abu Hafs al-Fakihani). Saat beliau melihat Sandal yang Paling Terhormat itu, beliau menengadahkan kepalanya dan mulai menciumi Sandal tersebut dan menggosokkan wajahnya ke Sandal tersebut. Air matanya mengalir, sambil membaca puisi berikut,

Falaw qīla lil-Majnūni: Laylā wa-waslahā
turīdu am al-dunyā wamā fī tawāyāha?

Laqāla: Ghubārun min turābi ni’ālihā

ahabbu ilā nafsī wa-ashfā li-balwāhā

Jika dikatakan pada Majnun yang tergila-gila akan Layla: Layla dan hubungan dengannya
Yang kau inginkan? Ataukah dunia dan apa yang ada di dalamnya?
Tentu dia akan menjawab: Sebutir debu dari Sandal Layla
Lebih kucintai dan obat ampuh bagi jiwaku”

[diriwayatkan oleh Ibn Farh di ad-Dibaaj al-Mudzahhab halaman 286]

Masjid tersebut dibumihanguskan kaum Tatar dan relik Sandal tersebut menghilang, tetapi Mihrabnya tetap lestari hingga zaman ini, dan berada di dalam masjid dari Sekolah persiapan Dar al-Hadits (pimpinan Syaikh Husayn Sabiyya yang melanjutkan kepemimpinan Syaikh Mahmud Rankuusi, yang melanjutkan kepemimpinan Muhaddits Syaikh Abu al-Khayr al-Miidaanii), di Asruniyya Souk, di dekat Masjid Umawi, Damaskus, di mana penulis tulisan ini pernah diberi kesempatan untuk mengunjunginya dan berdoa di dalamnya.


TABARRUK PARA SAHABAT DAN UMMAT DENGAN SANDAL NABI

1. Bukhari dan Tirmidhi meriwayatkan dari Qatada: "Aku bertanya pada Anas untuk mendeskripsikan sandal milik Rasulullah sallAllahu ‘alayhi wasallam, dan dia menjawab: Setiap sandal memiliki dua tali pengikat", dan dari 'Isa bin Tahman: "Anas mengeluarkan sepasang sepatu dan menunjukkannya pada kami. Sepatu-sepatu ini tidak memiliki bulu." (kebiasaan Arab adalah untuk tidak melepas bulu dari kulit yang dipakai sebagai bahan sepatu).

2. Diriwayatkan pula dari Ibn Sa’ad bahwa Anas adalah penjaga Sandal Nabi sallAllahu ‘alayhi wasallam.

3. Bukhari, Malik, dan Abu Dawud meriwayatkan bahwa 'Ubayd ibn Jarih berkata ke 'Abd Allah ibn 'Umar: "Aku melihatmu memakai sandal kemerahan." Ia menjawab, "Aku melihat Nabi memakai sandal dengan tanpa bulu dan melakukan wudhu' dengan memakainya, jadi aku suka memakainya."

4. Al-Qastallani dalam kitabnya Mawahib al-Laduniyya berkata bahwa Ibn Mas'ud adalah salah seorang pembantu Rasulullah sallAllahu ‘alayhi wasallam dan biasa membawakan bantal (wisada) kepada beliau, juga sikat gigi (siwak) beliau sallAllahu ‘alayhi wasallam, dua sandalnya (na'layn) dan air untuk wudhu'nya. Ketika Nabi sallAllahu ‘alayhi wasallam bangun, ia (Ibn Mas'ud) akan memakaikan sandal beliau pada beliau, dan ketika beliau duduk, ia akan membawa sandal itu dengan tangannya sampai beliau bangun dari duduknya.

Riwayat ini disebutkan pula oleh Imam al-Sâlihî dalam karyanya, Subul al-Huda wa’l Rashâd (8:318)

5. Qastallani menyebutkan riwayat berikut dari salah satu Tabi'in terbesar: Abu Ishaq (al-Zuhri) berkata, "al-Qasim ibn Muhammad (ibn Abu Bakr al-Shiddiq) berkata, "Salah satu barokah dari memiliki sandal yang serupa dengan sandal Nabi sallAllahu ‘alayhi wasallam adalah barangsiapa memilikinya untuk tabarruk, akan terjaga dari hasutan pemberontak dan dari penguasaan musuh, dan akan menjadi penghalang terhadap mata jahat orang yang hasud. Jika seorang hamil membawanya dengan tangan kanannya, akan dimudahkan proses persalinannya dengan kekuasaan Allah."

6. al-Qastallani juga berkata bahwa Abu al-Yaman ibn 'Asakir menulis suatu volume buku khusus tentang lukisan dari sandal Nabi sallAllahu ‘alayhi wasallam, demikian pula Ibn al-Hajj al-Andalusy. Dia meriwayatkan dari seorang Shaykh Wali bernama Abu Ja'far Ahmad ibn 'Abd al-Majid:

"Aku memotong pola sandal ini untuk seorang muridku. Dia datang kepadaku suatu hari dan berkata, "Aku melihat keajaiban kemarin dari barokah sandal ini. Istriku menderita karena sakit yang hampir merenggut nyawanya. Aku menaruh sandal ini pada tempat sakitnya dan berdoa, "Wahai Allah, tunjukkan padaku barokah dari pemilik sandal ini." Allah menyembuhkannya pada tempat yang sakit itu."

7. Al-Munawi dan Al-Qari’ menyebutkan dalam kitab Syarah (komentar) mereka atas kitab karya Imam Tirmidzi, yaitu Asy-Syama-il (suatu kitab yang berisi penjelasan tentang sifat-sifat Nabi sallAllahu ‘alayhi wasallam) bahwa Ibn al-‘Arabi berkata bahwa sandal merupakan bagian dari pakaian para Nabi, dan bahwa orang-orang meninggalkannya semata karena lumpur yang melekat dari tanah mereka. Ia (Ibn al-‘Arabi) juga menyebutkan bahwa salah satu nama dari nama-nama yang dimiliki Nabi sallAllahu ‘alayhi wasallam di kitab-kitab kuno adalah Sahib an-Na’layn atau “Pemilik sepasang sandal.”

8. Imam Abu Ishâq Ibrahîm ibn Muhammad ibn Khalaf al-Sullamî, terkenal sebagai Ibn al-Hâjj, mengumpulkan pujian yang telah ditulis para penulis dan penyair tentang Sandal Nabi.

9. Imam dan ahli hadits (Muhaddits) Abû al-Yumn `Abd al-Samad ibn `Abd al-Wahhâb Ibn `Asâkir dari Damascus ( wafat 686 H), yang dimakamkan di Baqi’, Madinah, menulis suatu tulisan berjudul “SKETSA SANDAL NABI sallAllahu ‘alayhi wasallam” (Timthâlu Na`l al-Nabiyy), yang juga diterbitkan.

10. Mujtahid besar Imam Sirâj al-Dîn `Umar ibn Raslân al-Bulqînî juga memberi perhatian khususnya pada Sandal Nabi.

11. Shaykh Yusuf al-Nabahani membacakan puisi berikut tentang sepasang sandal Nabi sallAllahu ‘alayhi wasallam:

wa na`lun khada`na haybatan li waqariha

fa inna mata nakhda`u li haybatiha na`lu

fa da`ha `ala a`la al-mafariqi innaha

haqiqataha tajun wa surataha na`lu


Sandal yang kepada kemuliaan agung pemiliknya kita berserah diri

Karena hanya dengan berserah diri pada keagungannya kita bangkit:

Karena itu, tempatkanlah di tempat tertinggi karena ia

Pada hakikatnya suatu mahkota, walau bercitra sebuah sandal.


Beliau juga berkata:
Sungguh aku melayani pola Sandal sang Mustafa
Hingga aku boleh hidup di dua alam di bawah naungan perlindungannya

12. Dan saat Imam al-Fakhani pertama kali melihat sepasang sandal Nabi sallAllahu ‘alayhi wasallam (lihat tulisan tentang Dar Al-Hadits Al-Asyrafiyya di atas) beliau membacakan puisi berikut:

wa law qila li al-majnuni layla wa wasluha

turidu am al-dunya wa ma fi zawayaha

laqala ghubarun min turabi ni`aliha

ahabbu ila nafsi wa ashfa li balawaha


Dan jika si Majnun terhadap Layla ditanya: Adakah kau memilih

Kebersamaan dengan Layla, ataukah dunia dengan segala permatanya?

Tentu ia akan menjawab: “Debu dari tanah kedua sandalnya

Lebih dicintai jiwaku, dan obat paling ampuh baginya."




13. Imam Syams ud-Dîn Muhammad ibn `Îsa al-Muqri’, menulis kitab berjudul “Kesejukan bagi Kedua Mata dengan Verifikasi Masalah Sepasang Sandal” (Qurrat al-`Aynayn fî Tahqîq Amr al-Na`layn)


14. Imam Abu l-‘Abbas al-Maqarri’ at-Tilmisaniy, wafat di Mesir menulis suatu buku paling tebal tentang hal ini, yang diberi judul Fath al-muta'al fi madh al-ni'al (Pembukaan untuk pujian yang paling tinggi atas sandal Nabi). Karya ini telah dipublikasikan, dan diringkas tiga kali, pertama oleh Radiyy al-Dîn Abu al-Khayr al-Qâdirî; yang kedua oleh Abû al-Hasan al-Dimintî; dan yang ketiga oleh Shaykh Yûsuf al-Nabahânî (semoga Allah merahmati mereka semua). Imam Abu l-‘Abbas juga menulis karya lain tentang Sandal Nabi berjudul Azhar ar-Riyad.

15. Sejarahwan Salim al-‘Ayyashi menulis dalam buku catatan perjalanannya, bahwa seorang dari ulama Cordoba, menulis pula suatu karya tentang Sandal Nabi berjudul “Koleksi Mutiara dari Desain Indah dan Tulisan Unik tentang Karakteristik Lukisan Sandal Utusan Allah sallAllahu ‘alayhi wasallam” atau al-La’ali’ al-Majmû`a Min Bâhir al-Nizâm wa Bâri` al-Kalâm fî Sifat Mithâl Na`li Rasûl Allâh.

16. Ashraf 'Ali al-Tahanawi menulis tulisan berjudul Nayl al-Syifa' bi na'l al-mustafa (Memperoleh kesembuhan melalui sandal Yang Terpilih/Al Mustafa) dalam bukunya Zad al-Sa'id (Makanan bagi yang Berbahagia).

17. Muhaddits India Muhammad Zakariyya Kandhalwi berkata dalam terjemahan Syama'il Imam Tirmidzi: Maulana Ashraf 'Ali Thahanawi Saahib menulis dalam kitabnya Zaadus Sa'id secara detail tentang barokat sepatu Rasulullah sallAllahu ‘alayhi wasallam. Secara singkat dapat dikatakan bahwa sandal Nabi sallAllahu ‘alayhi wasallam memiliki banyak keistimewaan. 'Ulama telah banyak mengalaminya. Salah seorang diberkati untuk dapat melihat Rasulullah sallAllahu ‘alayhi wasallam dalam salah satu mimpinya, orang yang lain mendapat keselamatan dari musuh, dan apa yang diinginkannya terkabul.

18. Sultan Ahmad I (1590-1617), salah satu dari Sultan kekhalifahan Ottoman, yang mendirikan Masjid Sultan Ahmad (the Blue Mosque) yang terkenal dengan 6 minaretnya, dikenal pula sebagai seseorang yang sangat religius, dan sebagai seorang Waliyyullah. Beliau menulis puisi dalam bentuk lukisan tapak kaki Nabi sallAllahu ‘alayhi wasallam dan selalu membawanya di Turbannya hingga saat wafatnya. Puisi itu berbunyi sebagai berikut:

“Aku berharap diriku selalu membawa lukisan kaki suci dari Yang Mulia Nabi

Pemimpin dari seluruh Nabi-Nabi

Sang Mawar dari untaian tasbih Nabi-Nabi adalah Pemilik kaki suci itu

Wahai Ahmad, jangan kau ragu

Untuk menggosokkan wajahmu ke Kaki Suci Sang Mawar agung”

Saat Sultan Ahmad 1 naik tahta di tahun 1603, tengah berlangsung beberapa pemberontakan di dalam negeri, juga peperangan dengan Persia di Timur, dan dengan Jerman dan sekutunya di Barat. Setelah beberapa saat, kekuatan Jerman dapat dilemahkan, dan perjanjian damai Zitwaterok ditandatangani; pemberontakan Jelalii ditaklukkan di tahun 1611, dan sebuah pakta perjanjian ditandatangani dengan Persia. Dan tercatat pula beberapa kemenangan Angkatan Lautnya di Mediterranea.

[Diambil dari catatan singkat riwayat hidup Sultan Ahmad 1 di Maqam beliau, di dekat Masjid Sultan Ahmad 1, Istanbul].

PENUTUP BAGIAN KE-6

Alhamdulillah wa Syukurlillah, pada bagian ke-6 ini, telah kita saksikan bagaimana perhatian para Sahabat dan Ulama’ dalam bertabarruk kepada Rasulullah Muhammad sallAllahu ‘alayhi wasallam, dengan sandal dan telapak kaki beliau. Semua berangkat dari rasa cinta dan penghormatan yang tinggi pada Nabi sallAllahu ‘alayhi wasallam. Bagi mereka, suatu kebahagiaan yang tinggi, bila mereka diterima bahkan hanya sebagai setitik debu di telapak kaki atau sandal Rasulullah sallAllahu ‘alayhi wasallam. Semoga Allah Ta’ala mengaruniakan ketinggian derajat dan kehormatan tertinggi bagi Sang Pemilik Sandal Mulia tersebut.
Share:

Tentang Saya

Hanya seorang manusia pada umumnya yang lagi banyak belajar tentang teknologi informasi, pernah kuliah di em em ugm kebetulan ngambil konsentrasi e-biz seputar TI lah. Saat ini lagi nyangkul di sebuah pts di Jogja dan aktif di berbagai forum dan milis teknologi informasi.

Recent Comments

Followers

Comments

Follow by Email

Subscribe to our email newsletter.

BTemplates.com

Blogroll

About

Tags 2

Recent Posts